Baligrafi Bali Butuh Regulasi Fleksibel, Agar Diminati Generasi Muda

IMG-20260206-WA0007
Kriyaloka (workshop) Baligrafi yang digelar serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII Provinsi Bali di Lantai I Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Kamis (5/2/2026).

DENPASAR-fajarbali.com | Perkembangan seni Baligrafi Bali dinilai memerlukan aturan yang jelas namun tetap memberi ruang kreativitas, terutama bagi generasi muda. Hal ini mengemuka dalam kriyaloka (workshop) Baligrafi yang digelar serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII Provinsi Bali di Lantai I Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Kamis (5/2/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas siswa SMA, penyuluh bahasa Bali, serta masyarakat umum. Peserta berasal dari SMAN 3 Denpasar, SMA Negeri 4 Denpasar, dan SMAN 5 Denpasar yang juga akan berlaga dalam lomba Baligrafi Bulan Bahasa Bali VIII 2026.

Workshop menghadirkan akademisi Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Dr I Made Gede Anadhi, S.Sn., M.Si., sebagai narasumber, dengan moderator peneliti sastra Bali I Nyoman Wahyu Angga Budi Santosa, S.S.

Dalam pemaparannya, Gede Anadhi menegaskan pentingnya kegiatan workshop dan lomba Baligrafi sebagai sarana memperkenalkan aksara Bali kepada generasi muda. Ia menilai perkembangan teknologi digital justru dapat menjadi penguat eksistensi Baligrafi di kalangan remaja Bali.

Namun demikian, ia menyoroti belum adanya kesepakatan yang jelas terkait batasan dan pengembangan Baligrafi sejak kemunculannya pada 2013. Menurutnya, aturan yang terlalu kaku berpotensi menghambat kreativitas seni, khususnya ketika Baligrafi mulai bersentuhan dengan seni rupa modern dan media digital.

“Ketika generasi muda mulai berani menyentuh wilayah yang dulu dianggap sakral, seharusnya ada aturan yang jelas dan disepakati bersama. Kreativitas seni tidak bisa sepenuhnya dibatasi,” ujarnya.

Gede Anadhi menambahkan, kebingungan peserta lomba terkait pakem Baligrafi menjadi bukti perlunya perumusan aturan secara serius. Ketegasan tersebut dinilai penting agar Baligrafi ke depan dapat masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal.

“Bukan hanya siswa, guru dan penyuluh bahasa Bali juga masih minim pemahaman Baligrafi, terlebih jika dikolaborasikan dengan media digital. Penyamaan persepsi harus segera dilakukan,” tegasnya.

BACA JUGA:  “Remaster Manusia Jawa” Sebuah Perjalanan Bersejarah dari Bali ke Jakarta

Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Dana Tenaya, menyampaikan Baligrafi merupakan salah satu mata acara penting yang konsisten dihadirkan dalam Bulan Bahasa Bali sejak 2019.

Menurutnya, pendekatan praktik langsung menjadi strategi efektif untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap seni kaligrafi Bali. Tantangan ke depan adalah menyelaraskan Baligrafi sebagai warisan leluhur dengan keseharian anak muda yang lekat dengan digitalisasi.

“Bagaimana Baligrafi yang bersumber dari tradisi bisa berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya,” ujar Dana Tenaya.

Ia menegaskan, sosialisasi dan lomba Baligrafi akan terus digelar di luar agenda Bulan Bahasa Bali sebagai upaya memperluas pemahaman dan meningkatkan minat generasi muda terhadap seni Baligrafi Bali.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top