Oleh karena itu, data publik dengan sistem saat ini sangat rentan beralih tangan dan disalahgunakan. Masyarakat sebagai pemilik data digital itu tidak memiliki kontrol atas datanya sendiri. Blockchain disebut bisa mengembalikan kedaulatan digital ini ke sang pemilik data.
Blockchain dapat mendorong transformasi tata kelola data digital. Atas prinsip desentralisasi, data yang awalnya terpusat di satu titik server (blok) akan disebar ke beberapa titik yang jika satu titik diserang tidak akan berdampak ke titik-titik sebaran data lainnya.
"Blockchain itu punya tiga lapisan yaitu advanced encryption, public key, private key; kemudian mekanisme desentralisasi; konsensus; dan ekonomis," ujarnya.
Ketika jaringan blockchain diretas dan data di dalamnya diambil, peretas akan berhadapan dengan advanced encryption, kode abstrak yang tidak terbaca manusia. Kode ini baru bisa dibuka kalau peretas memiliki public dan private key yang biasanya dikontrol pemilik data.
Kemudian, jaringan blockchain yang terdiri dari kumpulan blok (server yang terdesentralisasi) akan mengirim sinyal ke blok-blok lain ketika salah satu bloknya diserang. Blok yang diserang akan secara otomatis diputus dari kumpulan blok yang masih aman.
Sedangkan, untuk mekanisme konsensus dalam blockchain tidak seperti server sekarang yang menerima data apapun yang dimasukkan. Server blockchain akan melihat dulu data apa yang masuk, bagaimana proses masuknya, benar atau tidak. Kalau tidak sesuai dengan konsensus, data itu bakal ditolak.
"Dari mekanisme ekonomi, peretas juga harus berpikir saking banyaknya server (blok) yang harus diserang. Waktu juga perlu perhatikan karena hanya tersedia waktu enam detik dalam satu menit untuk meretas. Kalau gagal mengulang lagi," imbuh dia.










