Bale Sakanem Portabel, Lebih Laris dari Tenda

BANGLI – fajarbali.com | Jasa sewa Bale Sakanem memiliki prospek yang cerah, tak kalah dengan bisnis persewaan tenda modern. Dari etimologinya, bale sakanem berarti sebuah bangunan dengan enam tiang.

Disebut portabel, karena bangunan berukuran 4,2 X 2,1 dengan tinggi tiang 2,8 meter ini bisa dipindah-pindah sesuai lokasi si empunya hajatan. Bale sakanem ini pun sanggup menampung maksimal 50 orang.

Salah satu desa yang memanfaatkan bale sakanem hingga kini yakni Desa Kuwum, Sukawana, Kintamani, Bangli. Seorang warga setempat, I Wayan Kardi menceritakan, bale sakanem tersebut terinspirasi dari desa tentangga, Belantih, Kecamatan Kintamani.

Ditemui di sela persiapan pemakaman ibunya, Jumat (11/3/2022), Kardi mengaku sangat terbantu dengan dua buah bale sakanem. Apalagi rumahnya sangat kecil, tidak sanggup menampung ratusan pelayat yang notabene satu warga desa adat ditambah keluarga serta koleganya yang datang dari luar desa.

Namun Kardi tidak menyewa bale sakanem. Bale yang ia gunakan adalah milik kelompoknya yang masih lingkaran keluarga besar. “Jika nyewa, perhari bisa 30 sampai 100 ribu per hari. Tergantung ukurannnya,” jelas Kardi.

Ia menambahkan, warga Desa Kuwum memang cenderung memilih bale sakanem ketimbang tenda saat punya kegiatan upacara adat keagamaan termasuk kematian.

Selain lebih murah, para tamu merasa lebih nyaman duduk di bale sakanem, apalagi pas musim hujan. “Kalau pakai bale, itu diduknya di atas. Di sini (Kintamani) kan dingin. Nah, pas musim hujan pun tetap nyaman duduk di bale,” imbuh dia.

Lanjut Kardi, ada perbedaan sistem sewa bale sakanem dengan tenda. Jika tenda diantar dan dipasang sendiri oleh penyedia jasa, sedangkan bale sakanem sebaliknya.

Si pemesan harus mengambil dan memasang sendiri bale tersebut. Kardi menuturkan, cara memasangnya sangat gampang. Sekalipun bukan tukang bangunan, pasti bisa karena sudah ada kode tertentu di setiap tiang.

“Jadi tinggal ngikutin tanda-tanda setelannya. Tinggal masukin,” jelasnya. Begitu pun atapnya dari seng. Sangat mudah dipasang. “Tinggal buka gulungan seng, lalu cleb, lembar demi lembar pasang di atas,” katanya.

Jika sudah selesai, pengguna jasa juga wajib mengembalikan bale yang telah dibongkar tersebut ke tempat pemiliknya.

Dalam sebuah acara, menurut Kardi, setidaknya diperlukan empat buah bale sakenem. Pasalnya, bale sakenem ini tidak hanya digunakan menerima tamu, tapi tempat untuk ‘mebat’ atau mengolah bumbu masakan.

Seiring berjalannya waktu, Kardi menuturkan, semakin banyak kelompok warga yang membuat bale sakanem untuk kebutuhan anggotanya, seperti keluarga besarnya sendiri.

Kardi merupakan generasi keempat perantauan asal Desa Pidpid, Kabupaten Karangasem. Pasangan kakek-nenek buyutnya itu telah menghasilkan keturunan hingga menjadi keluarga besar saat ini.

Karenanya, keluarga besar Kardi bakal terus membuat bale sakanem untuk mengantisipasi acara keluarga besar yang berbenturan.

“Sekarang kami baru punya dua bale. Siapa tahu ke depan acaranya bisa berbarengan antar-keluarga, makanya perlu disiapkan, antisipasi,” pungkas Kardi. (Gde)

 Save as PDF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sidang Kasus WNA Uzbekistan, Keterangan Saksi Diduga Banyak Keanehan

Sab Mar 12 , 2022
  DENPASAR -fajarbali.com |Persidangan terdakwa WNA Uzbekistan Dhilsod Alimov yang digelar secara daring, pada Kamis 10 Maret 2022 banyak kejanggalan. Terlebih adanya keterangan saksi yang dihadirkan di persidangan Pengadilan Negeri Denpasar.   Save as PDF

Berita Lainnya