"Lewat pembelajaran matematikan, ilmu lainya terutama dalam bidang sastra tersimpan di lontar sebagian besar berbahasa Bali dan Jawa kuno. Jadi lewat gurulah kita mengetahui apa isi lontar itu, sehingga banyak pengetahuan bisa menjadi penyelamatan bagi kehidupan kita," imbuh Arya.
Lanjut Arya, khusus pergaulan anak-anak di sekolah pihaknya mengarahkan agar menggunakan menggunakan Basa Bali.
“Porsinya yang sama, mereka biasa menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ya untuk basa Bali juga sama diberlakukan. Artinya tidak satu saja yang diutamakan, sama - sama diberlakukan,” tandasnya.
Akademisi Unud Dr. I Wayan Suardinaya dan Guru SMPN 1 Kuta Selatan Dr. Ni Wayan Sariani, SPd., tampil sebagai narasumber.
Menurut Sariani, pengembangan teknologi saat ini terus meningkat, maka bagaimana penggunaan gadget digeser dikit, masukan satua atau cerita, pantun.
Menurutnya, ada empat pihak yang berperan dalam meningkatkan penggunaan basa Bali, yaitu peran pemerintah, peran orang tua, guru dan masyarakat.
"Saya ingin mengajak guru – guru basa Bali tidak boleh berdiam diri,” ungkap Sariani.
Salah satu guru SMPN 1 Denpasar mengusulkan pembelajaran mesatwa Bali sebagai tambahan pelajaran bahasa Bali. Hal ini akan dapat memperbanyak mateti pembelajaran bahasa Bali itu sendiri.
Aksara Bali ini penting diberikan untuk generasi, sebab aksara Bali itu yang dapat menyelamatkan budaya Bali. Kegiatan ini diikuti 500 lebih guru bahasa Bali berbagai jenjang sekolah se-Bali. W-009










