Fenomena absente organisasi juga dapat terjadi karena berbagai faktor yang saling berkaitan, baik dari sisi individu maupun sistem organisasi. Beberapa alasan utama yang menyebabkan kondisi ini adalah sebagai berikut:
1)Budaya Takut Berpendapat
Dalam banyak organisasi, terdapat budaya kerja yang tidak memberikan ruang aman bagi karyawan untuk menyuarakan pendapat mereka. Ketakutan akan mendapat sanksi, pengucilan, atau dianggap tidak loyal membuat karyawan memilih untuk diam. Hal ini diperparah oleh pemimpin yang cenderung mendominasi diskusi dan tidak mendorong partisipasi aktif dari bawahan.
2)Struktur Hierarki yang Kaku
Struktur hierarki yang kaku membuat jalur komunikasi menjadi satu arah, dari atas ke bawah. Dalam struktur seperti ini, karyawan di tingkat bawah sering merasa bahwa pendapat mereka tidak akan didengar atau dihargai. Mereka lebih memilih untuk mengikuti instruksi atasan daripada mengambil risiko mengemukakan ide yang mungkin bertentangan dengan kebijakan yang ada.
3)Penilaian Kinerja yang Salah Fokus
Banyak organisasi masih mengukur kinerja karyawan berdasarkan kepatuhan dan loyalitas daripada kreativitas dan inovasi. Sistem penilaian seperti ini mendorong karyawan untuk menjadi pasif dan menghindari inisiatif yang dapat dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan. Mereka lebih memilih untuk menjadi “pengikut setia” yang tidak menimbulkan masalah.
4)Kurangnya Ruang untuk Aktualisasi Diri
Dalam hierarki kebutuhan Maslow, aktualisasi diri adalah kebutuhan tertinggi yang hanya dapat dicapai jika individu merasa aman dan dihargai. Namun, dalam banyak organisasi, kebutuhan ini tidak terpenuhi karena karyawan tidak diberi ruang untuk berkreasi dan mengekspresikan ide-ide mereka. Akibatnya, mereka merasa tidak terlibat secara emosional dan intelektual dalam pekerjaan mereka.










