
Dr. AAN Eddy Supriyadinata Gorda
Dalam dunia kerja, istilah absente biasanya merujuk pada seseorang yang diharapkan hadir di tempat kerja tetapi tidak hadir secara fisik. Namun, dalam konteks organisasi modern, absente juga dapat berarti ketidakhadiran secara intelektual atau emosional. Fenomena ini menciptakan apa yang kemudian saya sebut dengan “absente organisasi,” yaitu kondisi di mana anggota organisasi hadir secara fisik tetapi absen dalam hal partisipasi aktif, ide-ide kreatif, dan keterlibatan emosional dalam proses pengambilan keputusan.
Fenomena ini semakin mengemuka dalam organisasi yang memiliki budaya “yes bos,” di mana karyawan cenderung hanya menyetujui pendapat atasan tanpa berani mengutarakan pandangan yang berbeda. Ketakutan akan perbedaan pendapat ini sering kali didorong oleh struktur hierarki yang kaku dan budaya kerja yang menilai loyalitas lebih tinggi daripada inovasi. Akibatnya, diskusi dalam organisasi menjadi mandul, tidak menghasilkan solusi kreatif, dan berujung pada stagnasi.
Mengapa Absente Organisasi Terjadi?
Fenomena absente organisasi pada dasarnya dapat dijelaskan melalui Hierarki Kebutuhan Maslow. Dalam hierarki ini, aktualisasi diri menempati puncak piramida sebagai kebutuhan tertinggi manusia. Aktualisasi diri mencakup kebutuhan untuk mengekspresikan ide, mengambil inisiatif, dan merasa dihargai atas kontribusinya. Sayangnya, banyak organisasi gagal menyediakan ruang yang memadai bagi karyawan untuk memenuhi kebutuhan ini.
Dalam organisasi dengan budaya “yes bos,” kebutuhan akan rasa aman (safety needs) sering kali menjadi prioritas utama bagi karyawan. Mereka lebih memilih untuk mengamankan posisi mereka dengan mengikuti instruksi tanpa mempertanyakan atau menawarkan ide-ide baru. Ketakutan akan sanksi, pengucilan, atau bahkan pemutusan hubungan kerja membuat karyawan memilih diam, meskipun mereka memiliki pandangan atau solusi yang lebih baik.










