DENPASAR-sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan dan berdampak pada lesunya perekonomian maupun sektor lainnya, tak ayal membuat banyak orang merasa tertekan dan kelelahan secara psikologis. Kelelahan psikologis ini disebut sebagai kelelahan pandemi atau pandemic fatigue akibat efek pandemi Covid-19.
Menurut Psikiater RSJ Bali dr. I Made Wedastra, M.Biomed, SpKJ, faktor psikologis memainkan peran penting selama pandemi apa pun. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kasus virus corona yang signifikan dari hari ke hari, stres di antara orang-orang meningkat. Selain itu, faktor-faktor seperti kehilangan orang yang mereka cintai, krisis keuangan, pembatasan perjalanan, penutupan tempat kerja dan sekolah, serta isolasi diri telah berkontribusi banyak pada masalah psikologis, sehingga meningkatkan masalah kesehatan mental.
"Faktor-faktor seperti usia, kondisi fisik, status mental, dan jenis kelamin memengaruhi pengalaman kelelahan seseorang. Faktor lain karena stres yang berlebihan, olahraga, atau reaksi patologis apa pun. Kondisi seperti gerakan fisik yang dibatasi, lockdown, isolasi diri, dan isolasi sosial juga berdampak negatif terhadap mental seseorang, yang menyebabkan kelelahan di masa pandemi," jelasnya saat dihubungi, Senin (1/2/21).
Ia juga menyoroti bahwa perubahan dalam praktik new normal seperti menghindari tempat berkerumun, menjaga jarak secara fisik, stres karena mencuci tangan sepanjang waktu, dan peningkatan informasi tentang penularan virus melalui media juga meningkatkan pandemic fatigue. "Kelelahan karena pandemi dapat menyebabkan masalah seperti masalah tidur, kabut otak, kurangnya motivasi, menarik diri dari berbagai hal dan peningkatan emosi dengan orang lain," ujarnya.










