Coop Coffee Ajak Petani Kopi Bali Beralih ke Pupuk Organik Hingga Garap Potensi Perdagangan Karbon Berkelanjutan

IMG_3340
Gubernur Bali, Wayan Koster didampingi CEO PT Koop Kopi Indonesia, Reza Fabianus saat meninjau booth kopi petani Desa Catur dalam Indonesia Carbon and Biodiversity Summit di Nusa Dua, Selasa (8/9). (FB/Dartha)

MANGUPURA-fajarbali.com | Isu keberlanjutan dan perubahan iklim kini bukan lagi sekadar wacana teknis di tingkat global, melainkan mulai diwujudkan dalam aktivitas harian para petani kopi di Bali. Melalui pendekatan kolaboratif, Coop Coffee Indonesia melalui PT Koop Kopi Indonesia merangkul komunitas perkebunan untuk menerapkan teknik budi daya ramah lingkungan. Langkah ini membuktikan bahwa perlindungan ekosistem dapat berjalan sejajar dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal.

Edukasi yang dijalankan mencakup peralihan dari penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik serta pengolahan limbah pascapanen. Di Desa Catur, Kintamani, para perempuan petani kopi memanfaatkan sisa buah, sayur, dan kotoran ayam terfermentasi untuk dijadikan pupuk organik berkualitas. Hasilnya, kualitas serta produktivitas panen kopi di kawasan tersebut mencatatkan peningkatan yang signifikan tanpa merusak struktur tanah. Komitmen ini ditegaskan dalam ajang Indonesia Carbon and Biodiversity Summit di Nusa Dua yang berlangsung pada 8–9 September 2026.

CEO PT Koop Kopi Indonesia, Reza Fabianus, menyampaikan bahwa sektor pertanian harus diposisikan sebagai bagian penting dari solusi krisis iklim. Lahan perkebunan kopi memiliki peran strategis sebagai penyerap karbon sekaligus penjaga keanekaragaman hayati. “Ketika membicarakan masa depan karbon, kita juga harus membicarakan siapa yang berada di lapangan, siapa yang menjaga lanskap, dan siapa yang memiliki kapasitas untuk mengukur perubahan yang terjadi di dalamnya,” ujarnya saat ditemui, Selasa (8/9).

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top