Desa Batungsel Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Teba Modern, Melalui Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Masyarakat

IMG-20260813-WA0020
Pengabdian bersama Unmas Denpasar dan Untrim, di Desa Batungsel, Pupuan, Tabanan, fokus pada upaya membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan. Salah satunya melalui pembangunan teba modern. [foto: dok]

*Unmas Denpasar dan Untrim membangun teba modern di enam lokasi di Desa Batungsel sebagai sarana pengelolaan sampah organik yang sederhana, praktis, dan sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat. 

*Kolaborasi [Perguruan Tinggi dan Masyarakat] menjadi kunci untuk memastikan bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berkembang menjadi praktik yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. 

 

TABANAN-fajarbali.com | Upaya membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan terus dilakukan di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Salah satunya melalui kegiatan pelatihan dan pengelolaan sampah berbasis Teba Modern, yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah desa, kelompok masyarakat, serta sejumlah fasilitas pendidikan dan pelayanan publik di Desa Batungsel. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pengabdian kepada masyarakat tahun ketiga dengan judul “Desa Batungsel Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan sebagai Desa Mandiri Ekonomi Berbasis Agrowisata.” 

Program tersebut dilaksanakan oleh tim pengabdi dari Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar dan Universitas Triatma Mulya (Untrim) Badung, dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemdikbudristek, Tahun 2026. 

Tim pengabdi terdiri atas Prof. Dr. I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Ir. Ni Gst Ag Gde Eka Martiningsih, M.Si., I Gusti Ngurah Made Wiratama, S.Pd., M.Si. dari Universitas Mahasaraswati Denpasar, serta Dr. Ni Luh Putu Agustini K., S.E., M.M. dari Universitas Triatma Mulya. 

Teba Modern Hadir di Enam Lokasi 

Prof. Agung Jayantini, selaku perwakilan tim pengabdi, menjelaskan, salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah Teba Modern, yaitu sarana pengelolaan sampah organik yang dirancang agar dapat diterapkan secara sederhana, praktis, dan sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat. 

BACA JUGA:  Komitmen Keberlanjutan, Kuta Beach Hotel Bersihkan Pesisir Kuta dari Sampah Plastik

Menurut Prof. Agung Jayantini, penerapan Teba Modern dilakukan secara kolaboratif di sejumlah lokasi strategis, yaitu SDN 1 Batungsel, SDN 2 Batungsel, SDN 5 Batungsel, TK dan PAUD Kusuma Widia Darma, Puskesmas Pembantu Desa Batungsel, serta kawasan di dekat Pura Mrajapati Banjar Adat Pempatan. 

Menurutnya, keberadaan teba modern tidak hanya diarahkan sebagai tempat pengolahan sampah organik, tetapi juga menjadi media edukasi. 

"Di lingkungan sekolah, misalnya, fasilitas tersebut diharapkan dapat mendorong siswa dan warga sekolah untuk mengenal pemilahan sampah, mengurangi sampah dari sumbernya, serta membangun kebiasaan mengelola sampah secara bertanggung jawab," ungkapnya.

Kolaborasi Menjadi Kunci 

Pelaksanaan program pengabdian melibatkan mitra masyarakat di Desa Batungsel, yaitu Yeh Nu Garden dan Kelompok PKK, sebagai bagian penting dalam penguatan kapasitas masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan dapat memastikan bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berkembang menjadi praktik yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. 

Kepala Desa Batungsel, I Wayan Ardijaya, turut mendukung pelaksanaan program sebagai bagian dari upaya memperkuat pembangunan desa. "Sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, perguruan tinggi, sekolah, serta fasilitas pelayanan publik menjadi fondasi penting untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berbasis pada partisipasi masyarakat," kata Ardijaya. 

Program ini juga diupayakan berjalan sejalan dengan kebijakan dan peraturan Pemerintah Provinsi Bali dalam pengelolaan lingkungan dan persampahan.

Dengan demikian, kegiatan tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, tetapi juga mendukung arah pembangunan Bali yang semakin menekankan keberlanjutan lingkungan dan pengurangan sampah dari sumbernya. 

Dari Sampah Menjadi Bagian dari Desa Berkelanjutan 

Melalui Teba Modern, masyarakat diperkenalkan pada pendekatan pengelolaan sampah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan diarahkan untuk dikelola di tingkat sumber sehingga dapat mengurangi sampah yang dibuang dan diangkut ke tempat pemrosesan akhir. 

BACA JUGA:  Transparansi Mengubah Sampah Menjadi Harapan

Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari visi besar menjadikan Desa Batungsel sebagai desa mandiri ekonomi berbasis agrowisata. Lingkungan yang bersih dan terkelola merupakan salah satu fondasi penting bagi pengembangan desa wisata dan agrowisata. 

Karena itu, pengelolaan sampah dipandang bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi juga bagian dari pembangunan ekonomi, pendidikan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan desa. 

Melalui kolaborasi yang terus diperkuat, Desa Batungsel diharapkan mampu membangun budaya pengelolaan sampah yang dimulai dari masyarakat, didukung oleh pemerintah desa, dan diperkuat melalui pendampingan perguruan tinggi.

Teba Modern menjadi salah satu langkah nyata untuk mengubah cara pandang terhadap sampah: dari persoalan yang harus dibuang menjadi sumber daya yang dapat dikelola dan dimanfaatkan. [gde/rel]

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top