GAMAS: Dari Pencari Nafkah Menjadi Pengasuh, Saatnya Mengembalikan Ayah ke Ruang Tumbuh Anak

IMG-20260718-WA0015
[ilustrasi]-Seorang ayah mengantar buah hatinya ke sekolah. ist

DENPASAR-fajarbali.com | "Ayah, hari ini antar aku ke sekolah, ya." Permintaan itu terdengar sederhana. Mungkin hanya terjadi setahun sekali, tepat pada hari pertama sekolah. Namun, di balik kalimat singkat tersebut tersimpan sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar.

Seberapa hadir sebenarnya seorang ayah dalam kehidupan anaknya?

Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia tumbuh dengan pemahaman yang nyaris seragam. Ayah bekerja di luar rumah sebagai pencari nafkah, sementara ibu mengasuh dan mengelola kehidupan keluarga. Pembagian peran tersebut lahir dari konteks sosial pada masanya dan tidak sepenuhnya keliru.

Namun, perubahan zaman menghadirkan tantangan baru. Anak-anak masa kini tidak hanya membutuhkan biaya pendidikan yang semakin besar, tetapi juga dukungan emosional yang semakin kuat. Mereka tumbuh di tengah derasnya arus informasi, tekanan media sosial, tantangan kesehatan mental, hingga perubahan pola pergaulan yang semakin kompleks.

Di tengah perubahan itu, muncul kesadaran baru bahwa menjadi ayah tidak lagi cukup dimaknai sebagai pencari nafkah. Ayah juga perlu hadir sebagai pengasuh, pendidik, pendengar, sekaligus teladan bagi anak-anaknya. Inilah paradigma baru pengasuhan yang mulai tumbuh di Indonesia.

Ketika Ayah Hadir Secara Fisik, tetapi Tidak Hadir dalam Kehidupan Anak

Kesibukan bekerja sering kali membuat waktu bersama keluarga semakin terbatas. Tidak sedikit ayah yang berangkat sebelum anak bangun dan pulang ketika anak telah tertidur. Ada pula yang secara fisik berada di rumah, tetapi pikirannya masih tertambat pada pekerjaan atau layar telepon genggam.

Fenomena ini dikenal sebagai fatherless. Bukan berarti seorang anak tidak memiliki ayah, melainkan kehilangan kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-harinya.

Pendataan Keluarga Tahun 2025 yang dilakukan Kemendukbangga/BKKBN menunjukkan bahwa 25,8 persen anak Indonesia belum merasakan keterlibatan ayah secara optimal dalam pengasuhan.

Angka tersebut seharusnya menjadi alarm bagi kita semua.

Anak tidak hanya membutuhkan seseorang yang membiayai pendidikannya. Mereka juga membutuhkan sosok yang mendengarkan ceritanya, memahami ketakutannya, merayakan keberhasilannya, dan tetap berada di sisinya ketika menghadapi kegagalan.

BACA JUGA:  Sosialisasi Pengelolaan Sampah oleh Dosen Prodi TPB FTP Unud di Desa Mendoyo Dauh Tukad, Jembrana

Ironisnya, banyak anak tidak kehilangan ayah. Mereka hanya kehilangan waktu bersama ayah.

Ilmu Pengetahuan Membuktikan: Kehadiran Ayah Membentuk Masa Depan Anak

Apa yang selama ini dirasakan banyak keluarga juga didukung oleh berbagai penelitian.

Psikolog perkembangan Michael E. Lamb dalam The Role of the Father in Child Development menjelaskan bahwa kualitas keterlibatan ayah berpengaruh besar terhadap perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak.

Anak yang tumbuh bersama ayah yang terlibat cenderung lebih percaya diri, memiliki kemampuan memecahkan masalah yang lebih baik, serta lebih mampu mengelola emosinya.

UNICEF juga menegaskan bahwa interaksi yang responsif antara orang tua dan anak merupakan fondasi penting bagi perkembangan otak dan pembentukan karakter.

Berbagai temuan tersebut menyampaikan pesan yang sama: anak membutuhkan lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan materi. Mereka membutuhkan hubungan yang hangat dan bermakna dengan kedua orang tuanya.

Lima Belas Menit yang Dapat Mengubah Banyak Hal

Di sinilah Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) menemukan maknanya.

Sekilas, gerakan ini tampak sederhana: mengajak ayah mengantar anak ke sekolah. Namun, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar perjalanan menuju ruang kelas, melainkan kebiasaan untuk hadir.

Perjalanan sekitar lima belas menit menuju sekolah dapat menjadi ruang percakapan yang selama ini hilang di tengah kesibukan.

"Hari ini pelajaran apa?" "Kamu kelihatan gugup. Ada yang ingin diceritakan?" "Ayah bangga sama kamu."

Kalimat-kalimat sederhana seperti itu mungkin terdengar biasa bagi orang dewasa. Namun, bagi seorang anak, kalimat tersebut dapat menjadi pengingat bahwa selalu ada seseorang yang percaya kepadanya.

Yang diantar ke sekolah sebenarnya bukan hanya anak. Yang diantar adalah rasa percaya dirinya.

BACA JUGA:  Pelantikan Pengurus APTISI Bali 2025-2030, Perguruan Tinggi Swasta Bertekad Jadi Pelopor Inovasi

Ketika Negara Mengubah Cara Pandang tentang Pengasuhan

Perubahan paradigma ini kini mulai tercermin dalam kebijakan publik. Sebagai tindak lanjut Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 17 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak di Sekolah dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS), Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menerbitkan Surat Nomor B/257/M.KT.02/2026 yang mengimbau instansi pemerintah memberikan fleksibilitas waktu kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) agar dapat mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah.

Kebijakan ini mungkin tampak sederhana, tetapi maknanya jauh lebih besar.

Untuk pertama kalinya, negara secara eksplisit memberikan ruang agar pekerjaan dan pengasuhan tidak diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Pesannya jelas: menjadi pegawai yang profesional dan menjadi ayah yang hadir bukanlah dua pilihan yang harus dipertukarkan.

Di Bali, semangat tersebut juga diperkuat melalui surat imbauan Sekretaris Daerah Provinsi Bali kepada seluruh pemerintah kabupaten/kota dan perangkat daerah. Langkah ini menunjukkan bahwa penguatan keluarga telah menjadi gerakan bersama lintas sektor.

Nilai Tradisi yang Tetap Relevan

Bagi masyarakat Bali, gagasan tentang pentingnya kehadiran ayah sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru.

Dalam tradisi Bali yang menganut sistem kekerabatan purusa, laki-laki pada umumnya memikul tanggung jawab sebagai penerus garis keturunan keluarga. Namun, tanggung jawab tersebut tidak berhenti pada menjaga nama keluarga, melaksanakan kewajiban adat, atau menjadi pencari nafkah.

Di balik status itu melekat pula swadharma seorang ayah untuk membimbing, melindungi, menjadi teladan, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anaknya.

Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Guru Rupaka yang menempatkan orang tua sebagai guru pertama dan utama bagi seorang anak. Sebelum mengenal guru di sekolah, anak belajar tentang kehidupan dari rumahnya sendiri—melalui cara orang tuanya berbicara, bersikap, menyelesaikan masalah, serta memperlakukan sesama.

BACA JUGA:  FK Unud Siaga Bencana, Gelar Simulasi Darurat Gempa Bumi dan Kebakaran

Karena itu, warisan terbesar seorang ayah bukanlah harta atau nama keluarga, melainkan karakter yang tumbuh dari keteladanan yang ia berikan setiap hari.

Membangun Indonesia Emas Dimulai dari Rumah

Indonesia menargetkan terwujudnya Generasi Emas 2045. Kita berbicara tentang bonus demografi, pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, transformasi digital, hingga daya saing global. Namun, semua cita-cita tersebut memiliki titik awal yang sama: keluarga.

Sekolah dapat mengajarkan ilmu pengetahuan. Negara dapat membangun fasilitas pendidikan. Guru dapat membimbing murid di ruang kelas.

Tetapi, rasa aman, kasih sayang, empati, dan karakter pertama kali dipelajari anak di rumah.

Karena itu, Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah bukan sekadar agenda seremonial. Gerakan ini menjadi simbol perubahan cara kita memandang peran seorang ayah: dari sosok yang selama ini lebih dikenal sebagai pencari nafkah menjadi pribadi yang juga hadir sebagai pengasuh, pendidik, dan teman bertumbuh bagi anak-anaknya.

Mungkin seorang ayah tidak selalu dapat mengantar anak ke sekolah setiap hari. Namun, setiap ayah selalu memiliki kesempatan untuk hadir.

Sebab, pada akhirnya, anak-anak tidak akan mengingat berapa lama orang tuanya bekerja. Mereka akan mengingat siapa yang meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka, menggenggam tangan mereka saat gugup, dan membuat mereka merasa dicintai. Dan, sering kali, semua itu berawal dari sebuah perjalanan singkat menuju sekolah. 

Penulis: Ari Listiani.

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top