Pengendalian PTM di Tibubeneng Berdayakan STT 

IMG-20260706-WA0001
Sekaa Teruna Teruni (STT) dari seluruh banjar di Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, dilatih cara senam kaki untuk mengendalikan gula darah, Sabtu (4/7).

MANGUPURA-fajarbali.com | Dewasa ini, gaya hidup yang tidak sehat seperti pola makan tidak sehat, aktivitas fisik yang kurang, dan konsumsi rokok, dapat menyebabkan peningkatan penyakit tidak menular (PTM).

Hal ini yang menjadi landasan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Denpasar, secara konsisten meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui Pengabdian kepada Masyarakat skema Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM).

Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, pada Sabtu (4/7/2026), dengan tema “Pemberdayaan Potensi Kearifan Lokal Bali melalui Kelompok Agregat Remaja (STT), untuk Meningkatkan Kemandirian Keluarga dalam Pengelolaan Penyakit Tidak Menular”.

Tim Pengabdi diketuai Prof.Dr. Komang Ayu Henny Achjar. SKM, MKep. SpKom., dibantu Dr. Agus Sri Lestari. Skep. Ns.MErg, Ketut Sudiantara, S Kep, Ns, MKes., serta I Ketut Gama, SKM. MKes.

Anggota pengabdi Ketut Sudiantara menjelaskan, berdasarkan data dari Puskesmas Kuta Utara, bahwa kunjungan penderita PTM di Puskesmas Kuta Utara masih cukup tinggi, yaitu penderita hipertensi pada bulan April 2024 sebesar 252 kasus, dan penderita dengan kasus diabetes melitus sebanyak 70 kasus.

"Di sisi lain, keberadaan kearifan lokal Bali seperti STT belum dimanfaatkan secara optimal dalam perawatan keluarga dengan PTM di rumah," ujar Sudiantara.

Menurutnya kegiatan ini sangat baik dalam rangka memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada kelompok remaja (STT), terutama berkaitan dengan pencegahan sejak dini penyakit tidak menular.

Pada kesempatan ini, STT diberikan pendidikan kesehatan komprehensif, praktik terapi komplementer, pendampingan keluarga PTM di rumah, serta screening kesehatan atau deteksi dini terhadap seluruh keluarga PTM.

Kearifan lokal Bali melalui Kelompok Agregat Remaja (STT), merupakan potensi besar yang bisa dimanfaatkan dalam pengelolaan penyakit tidak menular di Bali, sehingga perlu penataan terintegrasi dan komprehensif.

BACA JUGA:  BKKBN Perkuat Pelaksanaan Bina Keluarga Balita

“STT bisa kita ajak bekerja sama untuk penanggulangan penyakit tidak menular di masing-masing keluarga. Karena, remaja inilah yang akan memberi pendampingan dan perawatan terhadap keluarganya di rumah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tibubeneng, I Made Kamajaya, SE., mengungkapkan, kegiatan rutin ini sebagai bentuk kerja sama antara Poltekkes Kemenkes Denpasar bersama Desa Tibubeneng yang sudah berjalan selama enam tahun. Seiring dengan perkembangan desa yang jumlah penduduknya semakin padat, sehingga memerlukan perhatian kesehatan secara intens.

“Maka dari itu, kami melakukan kerja sama dengan Poltekkes Kemenkes Denpasar dalam rangka memberikan pelayananan kesehatan kepada masyarakat kami di Tibubeneng. Sehingga, kami berharap seluruh masyarakat mendapatkan layanan kesehatan sesuai standarnya,” harapnya.

Desa Tibubeneng, kata Kamajaya, merupakan salah satu desa di Kecamatan Kuta Utara yang saat ini perkembangan pariwisatanya sangat pesat. Sebagian besar masyarakatnya berkecimpung di sektor pariwisata. Dengan jumlah penduduk sebanyak 12.000 jiwa lebih, ditambah wisatawan yang datang dari seluruh dunia, sehingga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat setempat.

Kegiatan ini diikuti oleh 65 STT yang tersebar di 13 banjar. Di akhir acara, para peserta diberikan keterampilan tentang senam kaki diabetes melitus, dan pemeriksaan tekananan darah.

Salah satu materi pokok dalam kegiatan tersebut, yakni senam kaki untuk mencegah diabetes melitus. Kelompok remaja Tibubeneng dilatih depalan gerakan kaki sederhana menggunakan media selembar koran bekas.

Gerakan tersebut diulang-ulang selama dua repetisi. Sebab, riset menunjukkan senam kaki mampu menekan gula darah jika dilakukan dengan benar dan konsisten. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top