GIANYAR-fajarbali.com | Yayasan Puri Kauhan Ubud kembali menggelar Sastra Saraswati Sewana (SSS) VI sebagai ruang pertemuan sastra, budaya, dan spiritualitas yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Nusantara. Pembukaan berlangsung di Wantilan Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Gianyar, Senin (29/6), bertepatan dengan Purnama Kasa.
Mengusung tema "Cakrawala Mandala Dwipantara", penyelenggara mengajak masyarakat menengok kembali warisan pemikiran Nusantara sebagai pijakan menghadapi tantangan zaman. Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Ngurah Ari Dwipayana, mengatakan konsep tersebut berangkat dari gagasan Sri Maharaja Kertanegara yang memandang Nusantara sebagai satu kesatuan maritim, budaya, dan peradaban.
Menurutnya, laut bukanlah pemisah antarpulau, melainkan penghubung yang menyatukan berbagai wilayah dalam satu cakrawala kebudayaan. Gagasan itu dinilai tetap relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang membutuhkan semangat persatuan di tengah keberagaman.
Pembukaan acara juga diwarnai pementasan perdana Topeng Sri Aji Dalem Jawi, sebuah karya seni kreasi baru yang menggambarkan semangat raja-raja Jawa dalam membangun persatuan Nusantara. Tapel tersebut merupakan karya Cokorda Alit Artawan, sedangkan gelungannya dibuat Cokorda Rai Arimbawa dan telah melalui prosesi sakral di Pura Pusering Jagat, Pejeng.
Usai dipentaskan di Bali, Topeng Sri Aji Dalem Jawi dijadwalkan menjalani tur budaya ke sejumlah situs bersejarah di Jawa Timur hingga Yogyakarta pada pertengahan Juli 2026, sebagai upaya memperkuat jejaring kebudayaan Nusantara.
Pada kesempatan itu, Yayasan Puri Kauhan Ubud juga menganugerahkan Sastra Saraswati Sewana Nugraha 2026 kepada almarhum I Gusti Bagus Sugriwa dan Ida Wayan Oka Granoka atas dedikasi mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan, sastra, seni, dan kebudayaan Bali. Penghargaan tersebut disertai peluncuran buku "Niskamakarma" sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian kedua tokoh tersebut.
Rangkaian pembukaan ditutup dengan forum Dharma Panuntun bertema "Bhuwana Sarira Mandala" yang menghadirkan para sulinggih Siwa-Buddha untuk membahas keterkaitan antara manusia dan alam semesta. Diskusi dipandu Ida Bagus Oka Manobhawa dengan narasumber Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran dari perspektif Kasiwan dan Ida Pedanda Gede Karang Kerta Nustana dari perspektif Kasogatan.
Acara ini turut dihadiri para wiku Siwa-Buddha, Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Ida Dewa Agung Hadisaputra, tokoh puri, rektor, budayawan, bendesa adat, seniman, serta berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya dan sastra Nusantara. [rel/gde]










