Panggung BWCC “Kawinkan” Endek Bali dengan Kimono Jepang

IMG-20260622-WA0033
Panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026, rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, berhasil "mengawinkan" Gemerlap kimono Jepang dengan kekayaan wastra Nusantara. 

DENPASAR-fajarbali.com | Panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026, rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, berhasil "mengawinkan" Gemerlap kimono Jepang dengan kekayaan wastra Nusantara. 

Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang, membawa cerita tentang filosofi, tradisi, dan hubungan antarbudaya melalui sebuah Rekasadana (Pergelaran) busana di Gedung Kerta Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, Sabtu (20/6) malam.

Bukan sekadar peragaan busana, pertunjukan tersebut jadi ruang pertemuan dua budaya. Kimono yang selama ini dikenal sebagai simbol kehidupan masyarakat Jepang dipertemukan dengan wastra Indonesia, khususnya endek Bali, yang juga menyimpan nilai dan filosofi dalam setiap motifnya.

Sebelum pergelaran dimulai, Gubernur Bali Wayan Koster menyapa para undangan yang hadir. Ia menyampaikan apresiasi kepada mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang Heri Akhmadi beserta tim dari Jepang yang turut berpartisipasi dalam PKB melalui BWCC 2026.

Koster menyebut keterlibatan Jepang dalam PKB tahun ini menjadi pengalaman baru sekaligus bentuk diplomasi budaya yang memperkuat hubungan Bali dan Jepang.

"Ini baru pertama. Terima kasih Bapak Heri dan serta tim yang telah hadir pada acara ini sekaligus memeriahkan Pesta Kesenian Bali yang juga diisi dengan Bali World Culture Celebration,” kata Koster.

Menurutnya, BWCC menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Bali dalam memperkuat dan memajukan kebudayaan dengan membuka ruang bagi seni dari berbagai daerah dan negara untuk saling mengenal.

Ia juga menyampaikan rasa syukur karena PKB yang pertama kali digelar pada 20 Juni 1979 mampu bertahan hingga memasuki penyelenggaraan ke-48. Selama perjalanan panjang tersebut, PKB terus berkembang dengan menghadirkan lebih banyak karya seni serta meningkatkan kualitas penyelenggaraannya.

Koster menilai hubungan Bali dan Jepang selama ini berjalan baik, termasuk dalam bidang pendidikan dan ketenagakerjaan. Banyak generasi muda Bali yang mengikuti program magang hingga bekerja di Jepang. “Orang Bali itu sedikit bicara banyak kerja, tekun. Cocok juga dengan etos kerja masyarakat Jepang,” imbuhnya.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Berpeluang Buka PKB-48/2026

Suasana budaya Jepang kemudian terasa ketika panggung dibuka dengan penampilan Taiko. Dentuman alat musik tradisional Jepang itu mengawali perjalanan penonton mengenal berbagai jenis kimono yang diperagakan lengkap dengan cerita dan makna di baliknya.

Konsul Jenderal Jepang di Denpasar Miyakawa Katsutoshi mengatakan kimono bukan hanya pakaian tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya Jepang yang menyimpan pesan kehidupan.

“Malam ini bintang utamanya tentu adalah salah satu simbol budaya Jepang yang paling ikonik di dunia yaitu kimono. Bagi masyarakat Jepang, kimono lebih dari sekadar busana tradisional,” ujarnya.

Ia menjelaskan setiap motif dalam kimono memiliki filosofi tersendiri. Sakura menggambarkan keindahan kehidupan, bambu melambangkan harapan dan umur panjang, sedangkan motif ombak menggambarkan keteguhan hati serta keharmonisan manusia dengan alam.

Filosofi tersebut, kata Miyakawa, memiliki kesamaan dengan wastra endek Bali yang juga membawa simbol alam dan doa dalam setiap motifnya. Karena itu, perpaduan kimono dan endek menjadi pertemuan dua tradisi yang saling melengkapi.

“Perpaduan ini bukan hanya kolaborasi fashion, tetapi dialog budaya yang menunjukkan bahwa tradisi bisa saling bertemu, saling menginspirasi, dan melahirkan kreativitas baru tanpa kehilangan identitasnya,” katanya.

Sebanyak 11 jenis kimono diperkenalkan dalam peragaan tersebut. Dimulai dari Kurotomesode, kimono formal tertinggi berwarna hitam yang biasa digunakan keluarga dekat pengantin dalam upacara pernikahan.

Setelah itu hadir Furisode dengan ciri khas lengan panjang yang identik dengan perempuan muda, Homongi untuk acara resmi, hingga Tsukesage yang memiliki tampilan lebih sederhana namun tetap elegan.

Penonton juga diajak mengenal Komon dan Edo Komon, kimono yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Meski terlihat sederhana dari kejauhan, kain tersebut menyimpan detail motif yang menunjukkan keahlian tinggi para perajin Jepang.

BACA JUGA:  Tak Kenal Maka Tak Sayang, Masyarakat Umum Diundang untuk Mengetahui Ajaran Bhaerawa

Selain busana perempuan, diperagakan pula kimono pria berbahan katun dengan obi Hakata, Hakama untuk upacara kelulusan, serta kimono anak perempuan dalam tradisi Shichi-Go-San yang merayakan pertumbuhan anak usia tiga, lima, dan tujuh tahun.

Direktur Kimono Gallery Yawara Tomi Nakamura mengatakan koleksi itu merupakan hasil pengembangan selama tiga tahun untuk menghadirkan pertemuan antara tradisi Jepang dan Indonesia. 

Berbagai kain tradisional Jepang seperti Jujigasuri, Edo Komon, Roketsuzome, Oshima Tsumugi, hingga Akashi Chijimi dipadukan dengan endek Bali. Beberapa koleksi juga mempertemukan sutra Jepang dengan batik Jawa dan tenun Nusantara.

Keunikan lainnya terlihat dari rancangan kimono yang dapat digunakan dalam dua sisi, sehingga menghadirkan tampilan berbeda dalam satu busana. Obi Jepang dan Bali juga saling dipadukan untuk memperkuat karakter kedua budaya.

Melalui kolaborasi tersebut, Nakamura tetap mempertahankan bentuk dasar kimono, namun menghadirkan desain yang lebih praktis agar generasi muda dapat lebih mudah mengenakan busana tradisional. [gde]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top