Mahasiswa UPMI Bali Rintis Desa Silangjana Jadi Destinasi Eduwisata Berbasis Lingkungan dan Budidaya Madu Trigona

u10-IMG-20251221-WA0000
BERDAMPAK-Tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali melalui program "Mahasiswa Berdampak" melaksanakan program pemberdayaan di Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

SINGARAJA-fajarbali.com | Tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali melalui program "Mahasiswa Berdampak" berhasil melaksanakan program pemberdayaan di Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Kegiatan yang berlangsung dari September hingga Desember 2025 ini, mengusung model Eco-Art Tech, sebuah inovasi eduwisata yang menggabungkan pelestarian lingkungan dengan teknologi tepat guna.

Desa Silangjana yang terletak di ketinggian 350 mdpl memiliki potensi alam yang luar biasa, mulai dari air terjun Candi Kuning hingga perkebunan buah yang melimpah.

Melihat potensi tersebut, Tim UPMI Bali memberikan pelatihan intensif kepada dua kelompok mitra, yakni Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lila Dharma Kerthi dan Kelompok Tani Lebah Madu Dharma Kerthi.

Salah satu fokus utama program ini adalah budidaya lebah madu Trigona sp. atau yang dikenal dengan lebah klanceng. Sebelumnya, warga setempat masih menggunakan metode konvensional dalam memanen madu.

Kini, melalui pendampingan mahasiswa, para petani lebah dibekali dengan mesin pemanen modern dan pakaian pelindung standar keamanan untuk memastikan proses panen yang lebih higienis dan efisien.

"Penempatan sarang koloni lebah diatur sedemikian rupa di sekitar perkebunan cengkeh dan buah-buahan untuk memastikan ketersediaan pakan alami bagi lebah," ujar Wayan Suanda selaku perwakilan tim pengabdian, di lokasi pengabdian, belum lama ini. 

Menurut Suanda, hasilnya cukup menjanjikan, dimana pemanenan perdana berhasil mendapatkan sekitar 200 mL madu hanya dalam waktu dua minggu.

"Selain budidaya lebah, program ini juga menyentuh aspek pengelolaan limbah. Pokdarwis setempat kini memiliki keterampilan baru dalam mengolah sampah plastik menjadi souvenir bernilai ekonomi seperti kipas, dompet, dan gantungan kunci," jelasnya.

Menurut Suanda, lngkah ini diambil untuk menjawab tantangan sampah plastik di kawasan wisata sekaligus memberikan pendapatan tambahan bagi ibu rumah tangga dan pemuda setempat.

BACA JUGA:  Hari Ibu, Momentum Untuk Meningkatkan Peran Perempuan

Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Silangjana, Komang Suparma, menyambut baik inisiatif ini. Ia berharap integrasi antara eduwisata berbasis lingkungan dan teknologi tepat guna ini dapat berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Program yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) ini tidak hanya mentransfer teknologi, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan yang inovatif.

Dengan sistem ticketing digital dan SOP pelayanan wisata yang baru, Desa Silangjana kini siap menyambut wisatawan dengan wajah baru yang lebih hijau dan mandiri. (rel/gde)

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top