Kampanye Setop Segala Bentuk Kekerasan terhadap Perempuan Terus Digaungkan!

u10-IMG-20251206-WA0011
Sekelompok elemen perempuan yang terdiri dari Sekolah Perempuan Srikandi Desa Dauh Puri Kaja, Sekolah Perempuan Kartini Desa Dauh Puri Kangin, Sekolah Perempuan Widya Santi Desa Dangin Puri Kangin serta mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) Universitas Ngurah Rai (UNR), menggelar aksi damai di Kawasan Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar, Sabtu (6/12/2025), pagi.

DENPASAR-fajarbali.com | Sekelompok elemen perempuan yang terdiri dari Sekolah Perempuan Srikandi Desa Dauh Puri Kaja, Sekolah Perempuan Kartini Desa Dauh Puri Kangin, Sekolah Perempuan Widya Santi Desa Dangin Puri Kangin serta mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) Universitas Ngurah Rai (UNR), menggelar aksi damai di Kawasan Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar, Sabtu (6/12/2025), pagi.

Kegiatan yang domotori Institut KAPAL Perempuan itu, merupakan rangkaian dari Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Bersama LSM Bali Sruti. Aksi damai tersebut juga ramaikan dengan cek kesehatan gratis terbuka untuk umum.

Dalam orasinya, mereka menyebut bahwa segala jenis kekerasan terhadap perempuan dan diskriminasi harus dihentikan karena merupakan kekerasan kemanusiaan.

"Ini bukan sekadar kampanye 16 hari. Tapi momentum meneguhkan komitmen bersama. Perempuan Bali dan Indonesia umumnya harus merdeka dari kekerasan menuju Indonesia Maju," kata pendamping aksi, Sri Sulandari.

Sri Sulandari yag juga akademisi FISHUM UNR ini menguraikan, angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dengan peningkatan kasus, terutama kekerasan seksual dan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).

Meskipun ada beberapa survei yang menunjukkan penurunan kecil pada jenis kekerasan fisik dan KDRT di tahun 2024, data dari Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan tahun 2024 mencatat lonjakan kasus hingga 330.097, didominasi ranah personal, dengan korban terbanyak anak, remaja, dan perempuan usia muda, serta jenis kekerasan paling tinggi adalah seksual dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Merujuk berbagai sumber, Sri Sulandari melanjutkan, tahun 2024 Komnas Perempuan mencatat peningkatan kasus hingga 330.097 (naik 14,17% dari tahun sebelumnya), didominasi kasus di ranah personal.

Demikian pula kenaikan kasus kekerasan seksual, termasuk kasus di ranah kesehatan dan pemaksaan kontrasepsi mengalami tren peningkatan.Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) melaporkan peningkatan hampir dua kali lipat pada tahun 2024.

BACA JUGA:  Kantah Badung Terima Kunjungan Ombudsman Bali untuk Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik

Sementara KDRT, data menunjukkan lonjakan kasus, namun survei KemenPPPA tahun 2024 menunjukkan penurunan kecil prevalensi KDRT dibanding 2021. Jenis Kekerasan yang dominan menurut Data Sinergi 2025, Kekerasan Seksual: Kasus terbanyak dilaporkan (12.398 kasus). KDRT: Menyusul di posisi kedua (7.587 kasus). Perdagangan Orang (TPPO): 489 kasus.

Adapun kelompok korban, terdiri dari anak dan remaja (46,38%) serta perempuan usia muda dan dewasa (41,10%) paling banyak menjadi korban. Pelajar (40,26%), perempuan bekerja (19,47%), dan ibu rumah tangga (18,86%) adalah kelompok korban aktif.

Adapun faktor pendorong, di antaranya budaya patriarki, ketergantungan ekonomi, rendahnya pendidikan, kondisi psikologis pelaku, dan penegakan hukum yang lemah.

Pihaknya berkomitmen terus menyuarakan setop kekerasan terhadap perempuan melalui berbagai program yang dirancang. Misalnya, memasukkan anti kekerasan terhadap perempuan di kurikulum FISHUM UNR, serta memperkuat kapasitas sekolah-sekolah perempuan.

Sri Sulandari berharap, masyarakat terinspirasi dengan aksi damai di Lapangan Niti Mandala tersebut, sesuai dengan kalimat-kalimat yang terpampang dalam spanduk aksi damai.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top