BANGLI - sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Delapan orang termasuk didalamnya tiga wisatawan asing yang akan melakukan pendakian ke Gunung Batur, Kintamani, Bangli menjadi korban serangan dan gigitan anjing liar. Fatalnya, dari hasil uji lab anjing liar yang diduga belum tersentuh vaksinasi tersebut diketahui positif terjangkit rabies.
Sesuai informasi yang berhasil dihimpun dari masyarakat dan dinas terkait, serangan anjing liar tersebut terjadi pada hari Sabtu (14 Desember 2019) di jalur pendakian Gunung Batur, diwilayah desa Songan A, Kintamani. Tercatat ada 8 korban yang menjadi korban serangan anjing liar tersebut. Yakni, Michel Ward asal USA, Jennifer Gicaseh asal German, Ngai Hai Min asal Singapura, Jro Gunawan asal banjar Serongga, Songan B. Nyoman Puri asal banjar Yeh Panes, Songan B. Ni Nyoman Puriani asal Br. Ulundanu, Songan A. Jro Suarada juga asal Br. Ulundanu Songan B dan I Wayan Darmada asal Blahbatuh, Gianyar.
Semua korban gigitan anjing tersebut, dilaporkan telah mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Kintamani V. Hal ini diakui Kepala Puskesmas Kintamani V drg. Wayan Subawa. Kata dia, delapan orang yang menjadi korban gigitan anjing itu telah ditangani dengan diberikan vaksin anti rabies (VAR). Karena letak gigitan anjing tersebut tidak pada organ atau tubuh yang riskan sehingga kedelapan orang itu tak sampai menjalani rawat inap. Meski demikian, VAR penuh akan diberikan, mennyusul setelah VAR tahap pertama sebanyak dua dosis, dilanjutkan dua pekan kemudian, lalu setelahnya sepekan lagi.
Sementara Kabid Keswan Dinas PKP Bangli, Ni Nyoman Sri Rahayu saat dikonfirmasi awak media, Senin (16/12) membenarkan adanya laporkan kasus gigitan anjing liar tersebut. Disampaikan, kronologis kejadian sesuai keterangan masyarakat setempat, anjing liar tersebut awalnya dilaporkan telah menyerang dan menggigit warga di banjar Yeh Panes. Kemudian berlanjut ke lokasi pendakian Gunung Batur, sehingga jumlah korban mencapai 8 orang, termasuk didalamnya tiga warga asing. “Kita telah turun ke lapangan untuk pengambilan sampel anjing,” ungkap Sri Rahayu menindaklanjuti kasus tersebut.
Sampel otak anjing tersebut berhasil didapatkan petugas, berkat bantuan masyarakat yang resah akan kejadian tersebut selanjutnya memburu anjing liar itu sehingga berhasil dieliminasi. Hanya saja, diakui, dari pengecekan sampel tersebut hasilnya dinyatakan positif terjangkit penyakit rabies. “Hasil dari pengambilan sampel itu sudah turun. Anjing itu positif rabies,” akunya. Karena itu, pihaknya menyarankan semua korban gigitan anjing liar itu untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan secara penuh. “Memang semua korban sudah mendapatkan penangan medis dan sudah mendapatkan VAR. Namun penanganan medis lanjutan masih harus dilakukan,” jelasnya.
Pasca kasus gigitan itu, pihaknya juga mengaku akan melaksanakan eliminasi anjing liar diseputaran wilayah tersebut. Sebab, kata dia, meski seluruh wilayah desa di Bangli telah mendapatkan vaksinasi. Namun, Sri Rahayu, tidak menampik jika beberapa wilayah memang sulit melakukan vaksinasi anjing hingga 100 persen. Kendalanya, karena sejumlah desa tersebut banyak memiliki Kawasan hutan serta banyak anjing yang justru diliarkan oleh pemiliknya. “Nah ketika petugas akan melakukan vaksinasi, biasanya kesulitan dalam melakukan penangkapan. Sering kali, karena anjing peliharaan warga justru dibiarkan diliarkan pemiliknya. Sehingga saat petugas datang, anjing tersebut keburu masuk hutan,” jelasnya.
Untuk itu, pihaknya kembali mengingatkan kepada masyarakat untuk lebih sadar akan bahaya rabies. Salah satu caranya, dengan tidak meliarkan anjing peliharaan. Lebih lanjut disampaikan, sesuai data dari Dinas PKP, tercatat dari bulan Januari – Oktober 2019, tercatat sebanyak 34 kasus gigitan anjing rabies di kabupaten Bangli. Sehingga dengan kasus terbaru ini, korban gigitan anjing rabies bertambah menjadi 42 kasus. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2018 lalu yang mencapai 31 kasus gigitan positif anjing rabies. (awd)










