MANGUPURA-fajarbali.com | Kawasan Pulau Peninsula, The Nusa Dua, mendadak riuh oleh gelak tawa ratusan anak. Mereka berkumpul untuk mengikuti pergelaran School Holiday Celebration yang mengusung tema "Liburan Nyaman Penuh Makna". Di balik kemeriahan musim liburan sekolah tersebut, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) secara khusus merancang sebuah ruang rekreasi yang tidak hanya edukatif, tetapi juga inklusif bagi anak-anak yatim dan berkebutuhan khusus.
Sebanyak 600 anak didampingi orang tua mereka tampak antusias memadati pusat aktivitas di kawasan Peninsula. Perhelatan ini mengintegrasikan kampanye liburan ceria dengan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan. Manifestasi kepedulian sosial tersebut diwujudkan secara nyata melalui penyerahan santunan, bantuan dana pendidikan, serta penyediaan sarana terapi khusus bagi anak yatim dan penyandang disabilitas yang hadir.
General Manager Kawasan The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menjelaskan bahwa agenda ini sengaja diinisiasi untuk memberikan warna baru bagi anak-anak dalam mengisi libur sekolah sekaligus menyambut Hari Anak. Langkah ini sekaligus menjadi momentum bagi ITDC untuk menegaskan komitmennya dalam membuka akses kawasan The Nusa Dua bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Kami mengundang anak-anak bersama orang tuanya untuk menikmati berbagai kolaborasi di Peninsula. Yang kami undang bukan hanya anak-anak umum, tetapi juga anak berkebutuhan khusus dan anak yatim supaya mereka juga mengetahui dan merasakan pengalaman berada di Nusa Dua,” ujar Agus Dwiatmika saat ditemui di lokasi acara.
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari sinergi lintas sektor yang melibatkan berbagai mitra strategis dan sponsor. ITDC menggandeng sejumlah nama besar di industri pariwisata dan edukasi, seperti Merusaka Nusa Dua, Museum Pasifika, Bali Zoo, Bali Safari, Varuna by Taman Safari, Bali Collection, hingga komunitas penggerak literasi lokal seperti Jejak Literasi Bali. Kolaborasi ini berhasil menghadirkan ragam aktivitas berbobot yang memadukan unsur bermain dan belajar.
Sepanjang sore, anak-anak diajak mengeksplorasi kreativitas mereka melalui lukisan tangan di atas kain putih bersama komunitas Bali Literasi, serta berinteraksi langsung dengan satwa jinak seperti elang dan ular dari Bali Safari. Tidak hanya itu, suasana semakin hidup dengan adanya sesi mendongeng, lokakarya pembuatan anyaman tradisional, serta rentetan pertunjukan seni tari yang dibawakan oleh komunitas seni anak dari Bali Collection.
“Anak-anak bisa berekspresi, berinteraksi dengan satwa, mendengarkan dongeng, belajar kerajinan, sampai menikmati pertunjukan. Kami ingin mereka benar-benar mendapatkan pengalaman yang berkesan selama berada di Nusa Dua,” tambah Agus Dwiatmika.
Animo masyarakat yang tinggi membuat jumlah kunjungan melesat melampaui target awal panitia yang berkisar antara 400 hingga 500 peserta. Melalui kesuksesan acara ini, Dwiatmika menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mengikis stigma eksklusivitas yang selama ini melekat pada kawasan The Nusa Dua. Ke depan, ITDC memproyeksikan kegiatan serupa sebagai agenda tahunan yang konsisten mengusung semangat pariwisata ramah keluarga dan bernilai sosial tinggi.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa Nusa Dua itu ramah bagi semua kalangan. Kami ingin kawasan ini menjadi destinasi yang inklusif dan family friendly, sehingga anak-anak maupun orang tua bisa menikmati suasana di sini dengan nyaman,” pungkas Agus Dwiatmika. (M-001)









