
Sanggar Seni Arsa Wijaya, Banjar Anyar Kaja, Kelurahan Kerobokan tampil swbagai Duta Badung pada Utsawa Drama Gong PKB ke-46, Kamis (20/6)
MANGUPURA-sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Tampil mewakili Kabupaten Badung, Sanggar Seni Arsa Wijaya, Banjar Anyar Kaja, Kelurahan Kerobokan, Kuta Utara dalam Utsawa (Parade) Drama Gong Tradisi, Kamis (20/6) di Kalangan Ayodya, Art Center Bali mendapat sambutan meriah penonton. Pementasan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 tersebut membawakan cerita "Cihnaning Wetu", drama gong ini tidak saja menghibur namun juga menyampaikan banyak pesan moral.
"Cihnaning Wetu" menceritakan di hutan Madui tumbuh besar perjaka tampan bernama I Gusti Ngurah Kawya, hidup bersama ayah dan kedua abdinya yang saban hari kegiatannya berburu dan memancing. Pada suatu hari sudah dilarang oleh ayahnya untuk pergi berburu karena hari tidak baik, namun diam-diam dia pergi juga berburu. Setibanya di tengah hutan, ada angin topan datang dan melemparkan mereka bertiga sangat jauh terdampar dan kemudian mereka sampai di suatu taman yang indah milik Raja Daha Pura.
Pada kerajaan Daha Pura memiliki dua orang putri yang sulung dari alm istri pertama raja bernama Dyah Dibyasari (Putri), dan yang kedua Putri Prami sekarang bernama Dyah Ragasmari (liku). Kedua putrinya ini menurut Raja dan Prami sudah layak dijodohkan. Prami pun diam-diam sudah mengirim utusan ke kerajaan Mataum supaya Raja Putra Mataum segera meminang anaknya (liku), begitu juga Raja Mataum sudah sepakat. Raja Mataum pun sudah siap untuk berangkat ke Daha Pura akan menikah. Setelah sampai di Daha Pura, dinikahkanlah dengan liku.










