DENPASAR-fajarbali.com | Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, menjadi salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) terdepan mendukung gebrakan Gubernur Bali Wayan Koster, Satu Keluarga Satu Sarjana.
UPMI Bali berani mengambil kuota 100 kursi beasiswa untuk mendukung program tersebut, setara dengan sejumlah PTS besar yang memiliki ribuan mahasiswa aktif.
Dari segi pilihan program studi (prodi) pun, UPMI tergolong paling banyak menawarkan sebanyak 13 prodi. Hal ini menunjukkan komitmen kuat UPMI mencerdaskan kehidupan Krama Bali. Demikian dikatakan Rektor UPMI Bali Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum., Rabu (9/7/2025).
Rektor merinci 100 kursi beasiswa itu akan dibagi ke dalam 13 prodi. Di antaranya, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah 9 orang, Prodi Pendidikan Sendratasik 2 orang.
Prodi Pendidikan Seni Rupa 9 orang, Pendidikan Bahasa Bali 10 orang, Pendidikan Sejarah 9 orang, Pendidikan Ekonomi 9 orang, Bimbingan dan Konseling 2 orang.
Berikutnya Prodi Kewirausahaan 10 orang, Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi 2 orang, Pendidikan Matematika 9 orang, Pendidikan Biologi 10 orang, Teknik Informatika 9 orang dan Sistem Informasi 10 orang.
Prof. Suarta mempersilakan calon mahasiswa daei jalur Satu Keluarga Satu Sarjana untuk mendaftarkan diri di UPMI. Asalkan memenuhi sejumlah syarat, sesuai data dari stakeholder terkait sperti dinas sosial, dinas pendidikan, BPS, Brida, hingga perbekel.
"Intinya program ini untuk Krama Bali yang belum ada sarjana di keluarganya, tergolong kurang mampu, berusia maksimal 25 tahun dan sebagainya. Tapi silahkan cari-cari informasi dulu," kata Prof. Suarta.
Rektor yang sekaligus menjadi tim program ini meminta masyarakat Bali memanfaatkan peluang emas ini. Selain akan mendapatkan gelar sarjana gratis, para penerima juga mendapatkan uang saku Rp1.400.000 per bulan untuk biaya hidup.
Jadi yang terpenting menurut dia adalah komitmen. Sehingga program beasiswa ini berisi pakta integritas agar penerima sungguh-sungguh belajar.
Belajar dari pengalaman pribadinya, Prof. Suarta mengaku berkat pendidikan hidupnya mulai berubah lebih sejahtera. Sebelumnya, ia berasal dari keluarga kurang mampu juga.
"Saya sudah membuktikan sendiri berkat pendidikan kehidupan saya dan keluarga jadi lebih baik," jelasnya.
Tidak Takut Rugi
Diketahui, lembaga pendidikan swasta sangat bergantung dari dana peserta didik dalam menjalankan operasional institusi. Namun, UPMI tidak takut rugi meski memberikan 100 beasiswa.
Rektor mengungkap, keputusan ini diambil setelah melakukan rapat dengan yayasan dan jajaran internal. Ia percaya karma positif dari calon mahasiswa yang akan dibantu berdampak pada UPMI sendiri.
"Ini namanya kita ma-yadnya untuk Semeton Bali. Tidak ada istilah rugi. Kalau nyari keuntungan beda lagi tempatnya, bukan memanfaatkan saudara kita yang kurang mampu," tegasnya.
Ia membayangkan akan sangat bahagia kelak, jika melihat calon penerima beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana ini banyak yang sukses di bidangnya, apalagi bisa menjadi guru, sebuah profesi yang sangat mulia.