Tema ICIIS 2022 Unhi Relevan dengan Situasi Kekinian

“Tema ICIIS ini sangat tepat, menarik, menantang bahkan unik. Dan, yang penting tema tersebut sangat sesuai dengan bidang studi yang ada di Unhi,” kata Rektor Unhi Prof. Dr. Drh. I Made Damriyasa, MS., di sela kegiatan, Jumat (30/9) di kampus Unhi.

ICIIS 2022 yang digelar Unhi Denpasar menghadirkan partisipan dari berbagai belahan dunia.

 

DENPASAR – fajarbali.com | Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar kembali menggelar International Conference on Interreligious and Intercultural Studies (ICIIS). ICIIS tahun ini yang dirangkai dies natalis ke-59, mengusung tema “Sacred Language, Magic & Mysticism”.

Seperti biasa, ICIIS menghadirkan narasumber beberapa professor dari berbagai negara, seperti Arizona University USA, University of Munchen Germany, Perguruan Tinggi di China, dan Filiphina. Para peserta yang hadir secara daring juga merata dari setiap benua mengingat begitu menariknya tema yang dibedah.

“Tema ICIIS ini sangat tepat, menarik, menantang bahkan unik. Dan, yang penting tema tersebut sangat sesuai dengan bidang studi yang ada di Unhi,” kata Rektor Unhi Prof. Dr. Drh. I Made Damriyasa, MS., di sela kegiatan, Jumat (30/9) di kampus Unhi.

Jika dihubungkan dengan program-program pembangunan di Provinsi Bali, menurut Damriyasa, tema yang diangkat tersebut juga terkait karena adanya adat tradisi dan kearifan lokal di Pulau Dewata ini.

Apalagi beberapa waktu lalu Gubernur Bali Wayan Koster telah mengukuhkan asosiasi pengobat tradisional, Gotra Pangusada Bali, yang juga erat kaitanya dengan diskusi yang dilangsungkan dalam ICIIS kali ini. “Sehingga hal tersebut yang mau kita gali dan diskusikan dalam International conference ini,” ujar Damriyasa.

Untuk itulah pihaknya mengundang pakar-pakar dari berbagai negara untuk mendiskusikan dan mengangkat kembali kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Bali.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, MA., memberikan apresiasi atas dilaksanakannya kegiatan ini, mengingat agama dan spiritualitas harus dipahami dengan baik bagi semua orang.

Sehingga jika dilihat dalam konteks tema yang diangkat sangat tepat untuk saat ini, karena dengan cara tersebut masyarakat akan lebih paham dengan agama dan spiritual, tidak hanya dari segi adat dan budaya bahkan juga dalam bidang politik.

“Ada semacam konsep yang menyatakan masing-masing pihak mengklaim dirinya paling otentik. Nah dalam masyarakat kita kan ini yang terjadi, seperti adanya gerakan-gerakan yang terjadi di masing-masing etnis dan agama, ternyata jika tidak dikelola dengan baik nantinya justru akan menimbulkan riak-riak sosial bahkan konflik dan disintegrasi bangsa,” pungkas dia. (Gde)

Next Post

Wisuda ke-33, Polkesden Lepas 597 Tenaga Kesehatan. Lulusannya Terserap hingga ke Luar Negeri

Ming Okt 2 , 2022
"Di luar negeri, lulusan Polkesden bekerja di bidang kesehatan tersebar di negara Amerika, Jepang, Belgia dan Timor Leste," ujarnya.
Polkesden 3-895cac26