Tari Kulkul Ciptaan Prof. Tirka Widanti Pukau Ratusan Penonton

IMG-20260622-WA0043
Pergelaran Tari Kulkul di Panggung Sangkep Green School Bali, Jl. Raya Sibang Kaja, Abiansemal, Badung, Sabtu (20/6/2026).

MANGUPURA-fajarbali.com | Panggung Sangkep Green School Bali, Jl. Raya Sibang Kaja, Abiansemal, Badung, Sabtu (20/6/2026) dipadati ratusan orang. Mulai dari tokoh puri, tokoh perempuan, akademisi, mahasiswa hingga seniman.

Pagi itu, digelar pementasan Tari Kulkul, ciptaan Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, MM., M.Hum. Selain menjabat Rektor Universitas Ngurah Rai, Prof. Tirka juga mengemban amahan sebagai President Yayasan Kul-Kul – Green School Bali.

12 orang penari perempuan berbadan ramping, tampak lincah mengalunkan setiap gerakan seirama dengan musik. Tari kulkul mempersembahkan seni gerak dan irama, yang merupakan simbol komunikasi, kebersamaan dan harmoni masyarakat Bali.

Kulkul merupakan alat komunikasi tradisional Bali, berupa alat musik bunyi yang umumnya terbuat dari bambu atau kayu, dan menjadi warisan leluhur.
Sebagai benda suci dalam filosofi umat Hindu di Bali, Kulkul diyakini memiliki Dewa penjaga atau penguasa. Hal ini selaras dengan nama Yayasan Kul-Kul, yang menaungi Green School Bali.

Pergelaran tari Kulkul ini, menjadi pengingat bahwa akar budaya Bali tetap kuat di tengah gempuran kemajuan zaman.

“Setahun yang lalu, Kementerian Kebudayaan RI hadir ke Green School Bali untuk memberikan support kepada kami agar terus maju. Semoga, setiap tahun kita bisa menyelenggarakan kegiatan seperti ini,” ujar Prof. Tirka dalam sambutannya.

Prof. Tirka menjelaskan, keberadaan Kulkul pada zaman dahulu memiliki peran yang sangat vital sebagai sarana komunikasi. Kulkul dimanfaatkan untuk mengundang warga desa adat, atau memberi tanda-tanda tertentu kepada warganya.

“Kulkul menjadi alat komunikasi yang sangat ampuh. Hingga saat ini, Kulkul masih digunakan oleh banjar maupun desa adat di Bali,” tegasnya.

Melalui pergelaran tari kulkul ini, ia berharap kepada generasi penerus agar tidak melupakan warisan budaya yang adiluhung. Kulkul menjadi simbol kebesaran Dewa Iswara, sebagai pemberi kekuatan (taksu) dan kesucian. Meskipun perkembangan alat komunikasi semakin canggih, Kulkul masih memiliki nilai kesakralan dan persatuan bagi masyarakat Bali.

BACA JUGA:  “Aji Pemalik Sumpah” Persembahan Sekaa Arja Sudhamala: Kejutan dari Klungkung

Ia berpandangan, pagelaran tari kulkul merupakan sebuah perwujudan nyata dari pelestarian budaya yang inklusif. "Kami ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Kebudayaan RI melalui pendanaan LPDP - Indonesiana Tahun 2025. Dukungan penuh ini memungkinkan kami untuk terus merawat napas kesenian Bali dan menyambungkannya dengan generasi masa kini," ungkapnya.

Terlahirnya tari ini berawal dari kecintaannya pada seni budaya, sebuah tradisi sosial yang sangat kuat yaitu budaya gotong royong sebagai warisan budaya bukan benda.

Kembali kedalam konteks filosofis, yakni Dewa Iswara yang dipuja sebagai pemberi kekuatan bagi kulkul di Prabawa sebagai Sang Kala Genter dan Sang Kala Gentar. Dengan demikian kukul merupakan benda yang disakralkan sehingga penggunaannya tidak sembarangan.

Dimana sebelum kulkul dibuat didahului dengan mencari Ayu Dewasa untuk membuat kulkul tersebut, kemudian setelah selesai dilakukan upacara penyucian dengan pemelaspas, dan dimohonkan kekuatan magis untuk upacara pasupati.

Sehingga kulkul menjadi benda suci dan memiliki kekuatan gaib.
Oleh karena itu, tidak jarang kukul menunjukkan kejadian-kejadian aneh di luar nalar manusia.

Dari filosofi pohon bambu dapat pelajari bahwa meskipun berlatar belakang tumbuhan rumput (family gramineae) namun bambu bisa berbeda karena memiliki karakter yang kuat, tangguh, ulet dan fleksibel.

Dan hal-hal tersebut merupakan falsafah hidup untuk tetap tegak dalam menghadapi badai dan masalah hidup. Demikian pula kulkul berfungsi untuk beradaptasi melalui berbagai bentuk. [gde]

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top