Sindrom Syok Dengue, Kegawatdaruratan pada Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) 

IMG-20250819-WA0004
(ilustrasi)-gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

DEMAM Berdarah Dengue adalah suatu penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data WHO, terdapat lebih dari 100 juta kasus dengue setiap tahunnya di dunia, dengan ratusan ribu kasus berkembang menjadi bentuk berat, dan sebagian di antaranya berakhir fatal.

Di Indonesia, kasus DBD cenderung meningkat terutama saaat musim hujan karena jumlah nyamuk yang meningkat.

Gejala awal DBD biasanya muncul 4-10 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi.

Gejalanya dapat berupa demam dengan pola pelana kuda, yaitu demam tinggi pada 1-3 hari pertama, lalu turun pada hari ke 4-6, saat hari ke 4-6 inilah fase kritis terjadi, keluhan lain dapat berupa nyeri kepala, nyeri area belakang mata, nyeri sendi dan otot, munculnya bintik atau ruam kemerahan, mimsian, gusi berdarah atau tanda perdarahan lainnya

DBD dapat berkembang menjadi bentuk berat yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS). DSS adalah bentuk paling berat dari DBD. Kondisi ini terjadi ketika dinding pembuluh darah menjadi lebih renggang sehingga plasma dari darah dapat merembes keluar dari pembuluh darah.

Hal ini menyebabkan volume darah menjadi turun sehingga tekanan darah turun. Hal ini dapat berakibat fatal karena aliran darah ke organ vital menjadi berkurang, kondisi inilah yang dinamakan syok.

Gejala syok ini dapat berupa nadi cepat dan lemah, pasien semakin lemas, tekanan darah turun drastis, nafas cepat, kulit terasa dingin dan lembab, penurunan kesadaran hingga kematian bila tidak ditangani.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top