Semangat Generasi Muda Bangkitkan Olahraga Tradisional Bali

IMG-20260702-WA0022
Semangat melestarikan budaya Bali bergelora di Lapangan Timur Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB), Denpasar, Kamis (2/7/2026).

DENPASAR-fajarbali.com | Semangat melestarikan budaya Bali bergelora di Lapangan Timur Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB), Denpasar, Kamis (2/7/2026). Ratusan pelajar SMP dari berbagai kabupaten/kota di Bali antusias mengikuti lomba olahraga tradisional dalam ajang Jantra Tradisi Bali yang digelar sebagai rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.

Sorak-sorai penonton menggema saat peserta berlomba pada nomor Matajog Putra (egrang bambu). Berdiri di atas dua batang bambu, para peserta dituntut menjaga keseimbangan, kecepatan, dan ketangkasan untuk mencapai garis finis tanpa terjatuh ataupun keluar lintasan.

Tak kalah seru, lomba Terompah Putri menyuguhkan adu kekompakan antarpeserta. Menggunakan sandal kayu panjang secara bersama-sama, setiap tim harus menjaga ritme langkah dan komunikasi agar mampu melaju cepat. Sementara pada nomor Hadang Putra, pertandingan berlangsung sengit dengan strategi dan kerja sama tim menjadi penentu kemenangan.

Kepala Bidang Tradisi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Putu Sutaryana, mengatakan Jantra Tradisi Bali tahun ini mengusung semangat tema PKB XLVIII, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, yang dimaknai sebagai upaya memurnikan jiwa melalui pelestarian budaya.

"Permainan tradisional bukan sekadar olahraga, tetapi juga membentuk karakter, melatih keseimbangan, keberanian, disiplin, hingga kerja sama. Melalui Jantra Tradisi Bali kami ingin generasi muda kembali mengenal dan mencintai warisan budaya yang mulai ditinggalkan," ujarnya.

Menurutnya, dipilihnya cabang Matajog dan Terompah merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali permainan tradisional yang kini semakin jarang dimainkan masyarakat. Pelestarian budaya, kata dia, tidak hanya dilakukan lewat seni pertunjukan, tetapi juga dengan menghidupkan permainan rakyat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Peserta lomba merupakan hasil seleksi dari sembilan kabupaten/kota di Bali dengan jumlah sekitar 50 peserta di setiap nomor pertandingan. Namun, tidak seluruh daerah mampu mengikuti semua cabang perlombaan karena keterbatasan anggaran.

BACA JUGA:  Perkuat Ekosistem Kebudayaan Desa-desa Warisan Dunia, Batur Tengah Pentaskan Tari Tattwa Tirtha Mahottama

"Dari sembilan kabupaten/kota, ada beberapa yang belum bisa mengirimkan peserta di seluruh nomor lomba. Kendala utamanya memang anggaran," kata Sutaryana.

Pada hari pertama perlombaan, Kabupaten Badung mendominasi dengan meraih Juara I pada nomor Terompah Putri dan Matajog Putra. Kota Denpasar menjadi juara kedua di kedua nomor tersebut, sedangkan Kabupaten Buleleng meraih Juara III Terompah Putri dan Kabupaten Tabanan menempati posisi ketiga Matajog Putra.

Selain pertandingan, Jantra Tradisi Bali juga menghadirkan demonstrasi permainan rakyat Kelik-Kelikan dari Desa Sulahan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Permainan tersebut dipentaskan Komunitas Sanggar Seni Suradiva Tampaksiring melalui sajian seni meplalianan dan bobondresan anak-anak yang mengangkat legenda lahirnya permainan tersebut.

Pembina Komunitas Sanggar Seni Suradiva, I Ketut Gede Agus Adi Saputra, mengatakan pertunjukan itu bertujuan menggali kembali sejarah permainan Kelik-Kelikan yang lahir dari kisah masyarakat Desa Sulahan saat menghadapi bencana kekeringan dan berebut sumber air dengan kawanan burung kekelik.

"Melalui pementasan ini kami ingin mengenalkan kembali permainan rakyat yang sarat nilai sejarah dan budaya kepada generasi muda," ujarnya.

Rangkaian Jantra Tradisi Bali akan berlanjut pada Jumat (3/7/2026) dengan mempertandingkan nomor Deduplak Putra dan Hadang Putri sebagai penutup lomba olahraga tradisional dalam PKB XLVIII Tahun 2026. [gde]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top