Perajin Perak Celuk Gianyar Diberi Pelatihan

GIANYAR-fajarbali.com | Industri kerajinan perak di Desa Celuk Sukawati Gianyar menjadi sentra kerajinan perak terbesar setelah di Kotagede, Yogyakarta. Salah satu keunggulan perhiasan perak Celuk adalah dari segi desain yang unik dan masih dilakukan secara handmade.



Namun 5 tahun belakangan ini nilai ekspor perhiasan perak belum menunjukkan tren positif. Mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Gianyar bekerjasama dengan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (BBPPEI), mengadakan pelatihan bagi para UKM Perak di Banjar Bucuan, Desa Batuan, Sukawati Gianyar, Kamis (1/3/2018).

Data di Disperindag Kabupaten Gianyar, saat ini jumlah perajin perak di Desa Celuk sekitar 300 perajin. Namun dari jumlah tersebut tidak semuanya berkembang, tidak sedikit yang mati suri akibat tingginya harga bahan baku dan kalah saing dari daerah maupun negara lain.

Tapi meski begitu, ikon perhiasan perak di Bali masih tetap dipegang oleh Desa Celuk Gianyar. Untuk membangkitkan inilah serta mempertimbangkan potensi yang ada, pihak BBPEI khusus memberikan materi pelatihan tentang peningkatan daya saing dan pemasaran ekspor produk kerajinan perak di kabupaten Gianyar.



Kepala BBPPEI ,Kementerian Perdagangan RI, Iriana Trimurty Ryacudu saat membuka pelatihan ini mengatakan, dipilihnya tema pelatihan ini adalah untuk memberikan dan meningkatkan pengetahuan praktis pada para peserta mengenai gambaran umum produk kerajinan perak, peluang dan tren produk kerajinan perak di pasar ekspor, standar mutu dan persyaratan pasar untuk produk kerajinan perak, pengembangan desain produk kerajinan perak, pengalaman ekspor produk kerajinan perak dan pemasaran ekspor produk kerajinan perak.

“Saya harap para perajin mampu menangkat peluang, trend, peningkatan standar mutu, pengembangan desain dan pemasaran eksport,” tegas Iriana Rycudu.




Next Post

Rumahnya Tak Layak Huni, Tidur di Lantai, Kalau Banjir Kebingungan

Jum Mar 2 , 2018
BANGLI-fajarbali.com | Warga Banjar Pulu, Desa Songan A, Kintamani, Jero Suarma (45) terjerat dalam kondisi ketidakberdayaan. Dia dan istrinya, Ni Sarimin, serta anak-anaknya tidur di rumah mungil, lagi-lagi tak menggunakan tempat tidur, tetapi tidur di lantai.  Save as PDF

Berita Lainnya