Pasca Banjir, Warga Mendulang Pasir di Sungai Unda

Bencana tak selamanya diiringi air mata. Di Kabupaten Klungkung buktinya, banjir yang terjadi di Sungai Unda beberapa waktu lalu kini disulap menjadi rupiah.

SEMARAPURA-fajarbali.com | Material pasir Gunung Agung yang terbawa arus banjir, saat ini mulai dikeruk oleh warga sekitar. Meski harga jualnya tak tinggi, tapi cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Terik matahari dan aroma belerang yang cukup menyengat tak mematahkan semangat Wayan Budiarta mengeruk pasir. Dengan peralatan seadanya, pria asal Desa Paksebali, Kecamatan Dawan ini terus menyisir anak Sungai Unda. Sedikit demi sedikit, pasir pun terkumpul dan siap dijual. Budiarta menuturkan, sejak terjadi banjir, jumlah pasir di Sungai Unda melimpah. Lokasi-lokasi eks galian kembali dipenuhi pasir. Menurutnya, kualitas pasir pasca banjir ini tidak jauh berbeda dengan pasir yang diperoleh dari galian di Karangasem.

Aktivitas mengeruk pasir Gunung Agung ini, dilakukan sejak Minggu (3/12/2017) lalu. Budiarta tak sendiri, sejumlah warga lokal juga turut mencari berkah bencana erupsi Gunung Agung di Sungai Unda. Dalam sehari, 1,5 kubik pasir berhasil dikumpulkan. Namun, sayangnya saat ini harga jual pasir tak terlalu tinggi. Lantaran masih dalam situasi bencana, sehingga banyak masyarakat yang takut untuk membangun.

“Tapi sekarang sepi yang beli karena takut. Tidak ada pasir dan airnya juga susah, jadi orang-orang takut membangun. Biasanya saya jual pasir ini sampai di Kota Klungkung saja. Biasanya harganya Rp 400 ribu tapi sekarang jualnya Rp 200 ribu untuk satu mobil cold untuk di seputaran Kota Klungkung. Biar jadi saja saya makan,” ujarnya Senin (4/12) sambil menyeka keringat.

Hal yang sama juga dikisahkan oleh Nengah Karta. Sejak terjadinya banjir yang menghanyutkan material lumpur dan pasir serta bebatuan, Sungai Unda berubah jadi lokasi galian baru. Bahkan, Karta mengatakan jika Galian C di Kabupaten Karangasem ditutup, maka aktivitas penambang pasir kini beralih ke sungai terbesar di Klungkung tersebut. Tempat-tempat yang dulu merupakan tempat cuci mobil, sekarang justru dipenuhi pasir.

“Melimpah sekarang pasirnya, sampai di tempat warga mencuci mobil, sekarang isi pasir. Sekarang kalau di galian C tutup, di sini yang ramai. Kalau di galian c buka, di sini tutup,” ungkap Karta yang menjual satu truk pasir seharga Rp 1,1 juta. (dia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Percepat Normalisasi Sungai, Dewan Sarankan Pakai Dana Tak Terduga dan Mitigasi Bencana

Sen Des 4 , 2017
  Untuk mempercepat proses nomalisasi sungai  di sejumlah titik di Karangasem, DPRD Karangasem menyarankan agar Pemkab Karangasem memakai dana tak terduga dan mitigasi bencana yang telah dianggarkan dalam APBD Perubahan 2017.