Lewat Penelitian, Dosen FST UNR Kupas Konsep Arsitektur Gunung Rata Pura Paibon Pemeregan

Konsep Arsitektur Gunung Rata

 Save as PDF

(ki-ka)-Ir. Made Mariada Rijasa, ST, MT., Bayu Mahaputra, ST, M.Ars., dan Ir. Ketut Witarka Yudiata, MT.

 

DENPASAR – fajarbali.com | Pura Paibon Warga Pemeregan, Denpasar, adalah pura kawitan yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja roh suci leluhur Ratu Dalem Pemeregan. Pura ini di sungsung oleh garis lurus keturunan leluhur Dalem Pemeregan yang berdomisili di Denpasar, Bali.

Namun ada hal yang unik pada konsep arsitektur pura ini, khususnya tatanan spasial jeroan pura. Jroan, secara fungsi merupakan zona suci/utama, namun terdapat perbedaan tingkatan lagi di jeroan pura ini, yang diberi nama konsep arsitektur gunung rata.

Konsep ini diterapkan dengan cara membedakan elevasi untuk zona palinggih, elevasi untuk menghaturkan banten dan elevasi untuk zona pengunjung pura bersembahyang.

Berdasarkan jabaran pura paibon dan latar belakang keunikan spasial jeroan pura ini, ditemukan permasalahan yakni belum terdapat informasi penerapan konsep arsitektur gunung rata pada tatanan spasial jeroan pura paibon secara ilmiah.

Berangkat dari persoalan tersebut, tiga dosen Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai, di antaranya Bayu Mahaputra, ST, M.Ars., Ir. Made Mariada Rijasa, ST, MT. dan Ir. Ketut Witarka Yudiata, MT. dibantu mahasiswa I Kadek Yogi Mahesa Putra dan Pande Wayan Sulaksana Putra melakukan penelitian mendalam bertajuk “Penerapan Konsep Arsitektur Gunung Rata Pada Tatanan Spasial Jeroan Pura Paibon Warga Pemeregan Denpasar”.

Ketua peneliti Bayu Mahaputra berharap, penelitiannya mampu memperkaya kajian ilmiah arsitektur Bali yang diterapkan pada jeroan pura paibon, sehingga ke depannya dapat menjadi bahan bacaan dan pengetahuan tentang penerapan konsep arsitektur gunung rata pada tatanan spasial jeroan pura paibon.

“Perlu dilakukan penelitian secara teknis untuk memahami konsep arsitektur gunung rata yang diterapkan pada pura paibon ini,” kata Bayu di Denpasar, belum lama ini.

“Hasil dari penelitian ini adalah jeroan di sini dikiblatkan mengekspresikan bale gunung rata fungsi gedong secara global. Hal ini dipertegas oleh terbaginya tiga unsur hirarki ruang,” imbuh dosen muda ini.

Pembagiannya, jelas Bayu, yakni Utama sebagai gedong, pada bale gunung rata. Jika bale ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan pusaka, maka zoning utama akan difungsikan sebagai gedong dan menduduki elevasi tertinggi pada unit bangunan ini.

Dilihat pada jeroan pura, gedong dimanifestasikan sebagai spasial pelinggih roh suci leluhur dan juga menduduki elevasi tertinggi pada spasial pura ini.

“Dengan demikian manifestasi gedong pada bale gunung rata sejalan dengan manifestasi pelinggih roh suci leluhur di jeroan pura,” ujarnya.

Kedua, Madya sebagai teras pemilik rumah, pada fungsi ruang bale gunung rata, terdapat dua unit teras, teras elevasi tertinggi atau zoning madya difungsikan sebagai teras pemilik rumah/tamu kehormatan.

Dengan demikian, ditinjau secara fungsi, penerapan ruang madya sebagai fungsi teras pemilik rumah pada bale gunung rata sejalan dengan penerapan ruang madya pada jeroan pura yang difungsikan sebagai beranda betara berwujud tajuk pelinggih.

Ketiga yakni Nista sebagai teras pengunjung/tamu umum, pada fungsi ruang bale gunung rata, terdapat teras terendah pada bangunan bale.

Secara fungsi, teras rendah ini difungsikan sebagai tempat untuk warga umum duduk/bersantai. Sedangkan pada analisis ruang jeroan pura, elevasi terendah ini difungsikan juga sebagai ruang duduk warga pemedek untuk berkumpul dan bersila memuja roh suci leluhur yang berstana di pura ini.

Dengan demikian fungsi teras rendah pada bale gunung rata dan fungsi natah pada jeroan pura memiliki kesamaan fungsi. Secara tidak langsung didapat data bahwa teras rendah pada bale gunung rata ini dimanifestasikan dengan wujud natah yang mengakomodir pemedek untuk bersembahyang di pura ini. (rl)

 Save as PDF

Next Post

Akan Dicabut Haknya Berjualan di PRG, Gus Gaga Minta Ada Dialog

Sel Sep 6 , 2022
"Saya harap ada upaya dialog dengan pedagang, ajak mereka bicara dari hati ke hati dan pemerintah mendengar keluhan mereka," harap Gus Gaga. Dengan diajaknya pedagang berdialog, maka akan muncul kemungkinan-kemungkinan solusi yang akan diambil.
IMG-20220905-WA0014-6c00dab7

Berita Lainnya