ITDC Perkuat Komitmen ESG, Sulap The Nusa Dua dan The Mandalika Jadi Destinasi Rendah Karbon

2026-05-15-at-14.12.23
ITDC jaga keseimbangan alam lewat ruang terbuka hijau.

MANGUPURA-fajarbali.com | Di tengah pesatnya pembangunan sektor pariwisata nasional, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) terus memperkuat komitmennya terhadap kelestarian lingkungan. Melalui pendekatan Protecting Nature yang terintegrasi dalam framework sustainability perusahaan, BUMN ini fokus mengembangkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di dua destinasi wisata utama, yakni The Nusa Dua di Bali dan The Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Langkah strategis ini mengintegrasikan ketahanan iklim, efisiensi energi, pengelolaan limbah, hingga perlindungan keanekaragaman hayati demi menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup jangka panjang.

Direktur Komersial & Marketing ITDC, Febrina Mediana, menegaskan bahwa kehadiran RTH memiliki peran yang sangat strategis dalam mendongkrak daya saing kawasan pariwisata di kancah internasional. Menurutnya, area hijau di destinasi wisata tidak boleh lagi hanya dilihat sebagai pemanis lanskap atau elemen estetika visual semata. “RTH harus diposisikan sebagai infrastruktur ekologis yang berfungsi nyata dalam memperbaiki kualitas udara, mengendalikan suhu mikro kawasan, serta menjadi benteng pertahanan utama dalam menghadapi ancaman perubahan iklim global,” jelasnya.

Konsep ini sengaja dirancang untuk menghadirkan pengalaman berwisata yang sehat, nyaman, sekaligus edukatif bagi para pelancong. Melalui pengembangan wisata berbasis alam seperti aktivitas luar ruangan (outdoor), program kebugaran (wellness), dan rekreasi pesisir, ITDC ingin mendorong gaya hidup sehat dan memperkuat kembali ikatan emosional antara manusia dengan alam. Pendekatan transformatif ini diyakini mampu meningkatkan kualitas pengalaman wisata secara menyeluruh sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pionir pariwisata hijau yang berkelanjutan.

Di kawasan The Nusa Dua, Bali, ITDC secara konsisten mengelola RTH seluas kurang lebih 97 hektare, atau setara dengan 27 persen dari total luas kawasan yang mencapai 359,7 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 43 hektare telah dihijaukan dengan lebih dari 5.700 pohon yang mencakup 138 jenis vegetasi, termasuk 32 di antaranya merupakan pohon lokal dan endemik. Keberadaan ribuan pohon ini terbukti efektif menjaga karakter lanskap asli Bali, memperkaya keanekaragaman hayati, dan menyediakan ruang publik inklusif yang sejuk bagi wisatawan.

BACA JUGA:  Berikan Rasa Aman dan Nyaman Bagi Wisatawan, ITDC Hadirkan Posko Nataru di Tiga Kawasan

Komitmen dekarbonisasi di The Nusa Dua juga diperkuat oleh sistem utilitas ramah lingkungan yang sangat maju. Sejak tahun 1979, kawasan ini telah mengoperasikan sistem lagoon yang mampu mengolah sekitar 10.000 meter kubik air limbah per hari untuk digunakan kembali sebagai irigasi lahan hijau melalui konsep circular water system. Berdasarkan kajian ilmiah terbaru, ekosistem vegetasi di The Nusa Dua berhasil mencatatkan total serapan karbon yang fantastis, yakni mencapai 16.279,57 ton karbon, dengan kandungan karbon rata-rata sebesar 48,2 ton C per hektare yang membuktikan efektivitasnya sebagai penyerap emisi di tengah tingginya aktivitas wisata.

Sementara itu, lompatan besar pariwisata berkelanjutan juga diterapkan di kawasan The Mandalika, NTB, yang memiliki total luas 1.175 hektare. ITDC mengalokasikan 363 hektare atau sekitar 30 persen dari total area tersebut khusus untuk Ruang Terbuka Hijau, di mana 19 persen di antaranya kini telah dikelola secara aktif sebagai zona konservasi. Sebagai upaya nyata memperkuat ekosistem pesisir dari ancaman abrasi, ITDC telah menanam lebih dari 10.400 pohon sepanjang tahun 2025, dan terus melanjutkan estafet hijau tersebut dengan menanam 15.000 pohon mangrove pada tahun 2026 ini.

Keunggulan pengembangan di The Mandalika terletak pada harmonisasi yang apik antara konsep green space (ruang vegetasi) dan blue space (elemen air). Perpaduan antara hutan kota, pantai, laguna, dan area konservasi pesisir ini tidak hanya menciptakan pemandangan alam yang memesona, tetapi juga berfungsi sebagai mitigasi bencana alam alami. Infrastruktur biru-hijau ini secara fungsional meningkatkan daya serap air tanah, menahan laju abrasi laut, serta melindungi habitat satwa pesisir agar tetap lestari di masa depan.

Melalui integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang ketat ini, ITDC berhasil membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi pariwisata tidak harus mengorbankan kelestarian alam. Langkah berani ini diharapkan dapat menjadi cetak biru (blueprint) bagi pembangunan destinasi wisata lain di Indonesia. "ITDC menempatkan RTH sebagai infrastruktur hijau strategis yang menjaga keseimbangan ekosistem, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta mendukung pariwisata Indonesia yang berkelanjutan, resilien, dan rendah karbon," pungkas Febrina. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top