Inovasi adalah Kunci, Seniman Muda Tepis PKB Monoton

IMG-20260625-WA0025
Diskusi Budaya Kawiya Bali yang bekerja sama dengan PWI Provinsi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Kamis (25/6/2026).

DENPASAR-fajarbali.com | Inovasi dan kreativitas generasi muda dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan seni dan budaya Bali di tengah derasnya perkembangan zaman. Namun, inovasi yang lahir tidak boleh memutus akar tradisi, melainkan harus tumbuh dari nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Pesan tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya Kawiya Bali yang bekerja sama dengan PWI Provinsi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Kamis (25/6/2026).

Mengangkat tema Peran Kreativitas Generasi Muda dalam Inovasi Seni, diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. AA Gede Agung Rahma Putra S.Sn. (tokoh sekaligus praktisi) , M.Sn. dan I Wayan Ary Wijaya S.Sn (komposer ) yang dipandu langsung I Made Adnyana Ole.

Narasumber I Wayan Ary Wijaya, mengatakan, teknologi digital kini menjadi instrumen penting dalam proses penciptaan karya seni tanpa harus menghilangkan identitas budaya yang menjadi akar utamanya.

Menurut Ary Wijaya, teknologi bukan ancaman bagi tradisi, melainkan alat bantu yang mempercepat proses kreatif sekaligus membuka peluang lahirnya gagasan-gagasan baru. Pengaruh budaya luar yang masuk dapat disaring melalui visi berkesenian yang tetap berlandaskan nilai-nilai tradisi Bali.

Berbekal pengalaman mengajar sejak 1996 hingga 2020, ia melihat inovasi sering lahir dari keinginan untuk keluar dari stagnasi. Namun, karya baru tidak selalu langsung diterima masyarakat dan harus melalui proses pengujian, kritik, hingga akhirnya memperoleh pengakuan.

Ia mencontohkan perkembangan dalam dunia gamelan Bali yang terus melahirkan pola dan transisi baru. Inovasi yang awalnya dianggap berbeda, lambat laun diterima masyarakat dan bahkan menjadi bagian dari perkembangan tradisi itu sendiri.

"Yang penting bukan sekadar berbeda, tetapi bagaimana seniman terus berkarya dan melahirkan pembaruan tanpa kehilangan karakter budaya yang menjadi jati dirinya," kata seniman sekaligus akademisi itu. 

BACA JUGA:  Peserta Cerpen Berbahasa Bali Membludak, 20 Persennya Diduga Gunakan Kecerdasan Buatan

Ary Wijaya juga menyoroti peran media digital yang sejak dekade 1990-an membantu para seniman mendokumentasikan ide kreatif, merekam suara gamelan, hingga melakukan berbagai eksperimen artistik secara lebih efisien. Teknologi memungkinkan proses penciptaan karya berlangsung lebih cepat tanpa mengurangi substansi dan nilai tradisi yang diangkat.

Sementara itu, Agung Rahma Putra menuturkan perjalanan kreatifnya saat mendirikan komunitas seni Pancer Langit pada tahun 2012. Komunitas tersebut lahir sebagai ruang alternatif bagi generasi muda untuk bereksplorasi dan berinovasi di tengah dominasi sanggar tari tradisional yang berkembang saat itu.

Menurutnya, kreativitas dan inovasi harus tetap berpijak pada tradisi sebagai identitas utama. Ia bahkan mengisahkan pengalaman ketika salah satu karya inovatifnya yang berfokus pada eksplorasi busana sempat mendapat kritik keras dan disebut sebagai "karya sampah" oleh kalangan pencinta seni tradisi saat ditampilkan di ajang PKB sekitar satu dekade lalu.

Kritik tersebut, kata dia, menjadi titik refleksi yang membentuk cara pandangnya terhadap hubungan antara inovasi dan tradisi. Ia menyadari bahwa inovasi bukanlah upaya meninggalkan tradisi, melainkan menghadirkan bahasa baru untuk menyampaikan nilai-nilai yang sama kepada masyarakat masa kini.

"Dari pengalaman itu saya memahami bahwa berinovasi bukan berarti melepaskan diri dari tradisi. Tradisi adalah identitas yang harus dijaga, sedangkan inovasi adalah ruang kreativitas yang membuat seni tetap hidup dan berkembang," ujarnya.

Dalam proses penciptaan karya, Agung mengaku selalu berpegang pada konsep desa, kala, patra sebagai kompas utama. Seorang seniman harus memahami tempat karya dipentaskan, waktu penyajian, serta konteks sosial yang melatarbelakanginya agar karya yang lahir tetap relevan dan memiliki makna.

Berdasarkan pengamatannya, generasi muda Bali saat ini bergerak dalam tiga kecenderungan berkesenian. Pertama, kelompok yang fokus menjaga tradisi secara murni. Kedua, kelompok idealis yang berkarya untuk mengeksplorasi gagasan baru tanpa mempertimbangkan pasar. Ketiga, kelompok yang bergerak pada karya hiburan atau komersial yang mengikuti tren dan kebutuhan publik.

BACA JUGA:  Ogoh-Ogoh Harus Sesuai Pakem

Meski memiliki orientasi berbeda, ketiga jalur tersebut menurutnya tidak perlu dipertentangkan. Masa depan seni Bali justru terletak pada kemampuan menjembatani tradisi, idealisme, dan hiburan agar dapat saling menguatkan.

"Generasi muda tidak cukup hanya menjaga abu tradisi, tetapi harus menjaga nyala apinya agar tetap hidup dan mampu berdialog dengan perkembangan zaman," tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Bali, Nyoman Winata, menilai forum diskusi budaya seperti ini penting untuk terus dihadirkan dalam rangkaian PKB sebagai ruang bertemunya gagasan, pengalaman, dan perspektif lintas generasi.

Menurutnya, perkembangan dunia seni Bali saat ini menunjukkan tanda-tanda yang sangat menggembirakan. Hal itu terlihat dari tingginya antusiasme generasi muda mengikuti berbagai lomba dan kegiatan seni yang digelar selama PKB.

"Dulu siapa yang mau menarikan Barong kecuali pemangku. Sekarang anak-anak muda luar biasa antusias. Penari Barong tumbuh sangat masif. Begitu pula pemain gender, anak-anak sekarang hebat-hebat dan memiliki kemampuan yang luar biasa," ujarnya.

Melihat fenomena tersebut, Winata optimistis seni inovatif akan terus melahirkan seniman-seniman muda berbakat yang mampu membawa seni Bali berkembang mengikuti tuntutan zaman. Namun, ia mengingatkan bahwa inovasi harus tetap berakar kuat pada seni tradisi sebagai fondasi identitas budaya Bali.

"Saya yakin seni inovatif akan melahirkan banyak seniman muda berbakat. Yang terpenting, inovasi itu tetap berakar kuat pada seni tradisi sehingga identitas budaya Bali tetap terjaga," katanya.

Karena itu, PWI Bali berharap ruang diskusi budaya yang mempertemukan seniman, akademisi, media, dan masyarakat dapat terus menjadi bagian dari agenda PKB pada tahun-tahun mendatang. Melalui forum semacam ini, pelestarian dan inovasi dapat berjalan beriringan sehingga seni Bali tidak hanya terjaga, tetapi juga terus tumbuh, berkembang, dan relevan di tengah perubahan zaman. [rel]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top