Ibarat Jayapangus dan Kang Ching Wie, Tiongkok dan Indonesia Perkuat Hubungan

DENPASAR-fajarbali.com | Perpaduan dua kesenian tradisional, ibarat kisah percintaan Raja Jayapangus dengan gadis China, Kang Ching Wie, berselaras dalam pertunjukan kolaborasi budaya Tiongkok-Bali di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre, Denpasar, Kamis (22/2/2018) malam. 



Pagelaran tersebut diselenggarakan Konsulat Jenderal (Konjul) RRT di Denpasar bersama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PMSTI), dan didukung Pemprov Bali.
Acara yang juga rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek 2569 itu, Konsulat Jenderal (Konjul) RRT di Denpasar menghadirkan puluhan seniman yang didatangkan langsung dari Provinsi Yunan, Tiongkok. Bersama itu pula, seniman Bali juga dilibatkan dengan menampilkan beragam pertunjukan seni, salah satunya tarian Barong.



Konjen RRT di Denpasar, Chen Wei menyampaikan terimakasih terhadap berbagai pihak yang mendukung acara tersebut. Baginya, suksesnya acara kemarin malam, tak lain berkat dorongan dan dukungan penuh dari berbagai pihak, khususnya Pemprov Bali dan PSMTI Bali.

Ditambahkannya, kegiatan ini sekaligus menunjukkan beberapa poin, seperti beberapa tahun belakangan di bawah pimpinan Presiden Xi Jinping dan Presiden Joko Widodo, inisiatif jalur sutra maritim abad ke-21 disinergikan kembali dengan strategi poros maritim dunia secara komprehensif. Kegiatan itu sekaligus menandai hubungan Tiongkok dan Indonesia yang telah memasuki era terbaik sepanjang sejarah.




Di sisi lain, Konjen RRT di Denpasar juga menggelar pameran foto bertema “China in new Era” sebagai penunjukan hubungan erat Indonesia dan Tiongkok. Dalam pameran yang berlangsung dari Rabu (21/2/2018) sampai Sabtu (24/2/2018) diperlihatkan indahnya konjen RRT bergandengan tangan dengan sahabat-sahabat dari berbagai kalangan masyarakat di Bali, NTB, NTT. Pameran itu juga menggambarkan prestasi diplomasi Tiongkok, dan prestasi pembangunan tiongkok dalam lima tahun terakhir.




Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Bali, I Dewa Putu Beratha yang membacakan sambutan Gubernur Made Mangku Pastika menyampaikan, hubungan atau keselarasan antardua etnis di Bali akan selalu erat jika diperkuat dengan rasa saling menghargai dan menghormati. Filosofi di mana bumi di pijak, di sana langit dijunjung, sudah diamalkan oleh seluruh masyarakat etnis keturunan Tionghoa berjalan beriring dengan masyarakat Bali. Dengan demikian, diharapkan akan terjalin hubungan erat antarmasyarakat di luar tatanan pemerintahan.

“Belakangan ini banyak kelompok-kelompok tertentu memunculkan aksi kekerasan, dan penyerangan terhadap umat beragama lain, sangat menggangu keharmonisan hidup bermasyarakat. Oleh karena itu semoga kita bisa berintrospeksi diri, mulat sarira, untuk mengembangkan sikap bersahabat penuh kasih sayang, baik terhadap lingkungan maupun alam lingkungan,” kata Putu Beratha menyampaikan pidato gubernur.

Pihaknya berharap, Bali sebagai pulau yang bermasyarakat hiterogen, dapat mampu membangun kehidupan rukun dan harmonis. Baginya, konsep keluarga besar harus diterapkan seluruh masyarakat Bali dan masyarakat keturunan Tionghoa untuk bisa berbaur dan membangun Bali untuk maju. (eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Komite III DPD RI Kunjungi SMK Penerbangan Cakra Nusantara

Jum Feb 23 , 2018
DENPASAR-fajarbali.com | Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Utusan Provinsi Bali, Dr. Shri. I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedastraputra Suyasa III, SE. (M.tru)., M.Si. melakukan kunjungan kerja ke SMK Penerbangan Cakra Nusantara.