HUT Emas, SMP PGRI 6 Denpasar Menuju Sekolah Bertaraf Internasional

DENPASAR,fajarbali.com | SMP PGRI 6 (Spegsix) Denpasar memasuki usia 50 tahun atau disebut ulang tahun ‘emas’, Selasa (30/1/2018. Kepala Spegsix Drs. I Ketut Antara menegaskan, momentum ini dijadikan landasan untuk membawa Spegsix menjadi sekolah bertaraf internasional, baik dari segi kedisiplinan, dan prestasi akademik/non akademik.



Cita-cita tersebut, menurut Antara tidaklah mustahil untuk dicapai. Sebab, peserta didiknya terbukti mampu mengukir berbagai prestasi bergengsi. Seperti Saiful, siswa yang berhasil meraih juara lomba mengarang tentang lingkungan hidup Internasional yang diselenggarakan WHO, I Ketut Widiadana, perenang nasional yang dipersiapkan berkompetisi di Dubay, Alexander Saunono direkrut menjadi pemain nasional Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Wayan Muliati menjadi pemain nasional voly yunior nasional, serta sederete prestasi membanggakan lainnya.

Terkait bidang akademik, Antara mengaku peserta didiknya dibekali pengetahuan tambahan yang wajib di antaranya, English Class, Komputer dan praktik langsung ke dunia usaha (hotel). “Kami harapkan siswa kami menguasai bahasa Inggris, komputer dan keterampilan lain untuk mewujudkan cita-cita kami, siswa kami harus punya kemampuan lebih, terutama bahasa Inggris,” ujar dia di sela perayaan HUT.




Dalam kesempatan itu, dia juga mengenang perjalanan SMP swasta yang beralamat di Jl Kapten Japa Gang Taman Sari no 2 Denpasar tersebut dihadapan para hadirin termasuk tokoh pendiri, I Made Suda dan I Made Lod. “Tahun 1968 sekolah ini berdiri, awalnya namanya SMP PGRI Denpasar, kemudian menjadi SMP PGRI 1 Badung. Setelah Badung dan Kota Denpasar berpisah, namanya SMP PGRI 6 Denpasar hingga sekarang,” kenangnya.

Antara menuturkan, kunci mengelola lembaga adalah menerapkan pendidikan dengan penuh kasih sayang, saling memiliki dan berkeadilan. Spegsix Denpasar adalah sekolah rujukan inklusi yang ditunjuk oleh Pemkot Denpasar, sehingga anak-anak berkebutuhan khusus bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah itu. Ditambahkannya, metode empat pilar, yakni rajin sembahyang, jujur, disiplin, dan bertanggungjawab juga selalu diterapkan kepada peserta didik secara konsisten.




Menariknya, HUT emas juga digunakan sebagai ajang menumbuhkan toleransi antar-umat beragama dengan membersihkan sejumlah pura di lingkungan Sumerta, Masjid, Gereja dan lingkungan. “Semoga sekolah ini tetap eksis. Mari kita budayakan ideology ‘pada gelahang’. Terimakasih kepada para pendiri sekolah, komite, guru, pegawai, lurah, YPLP Kota PGRI Denpasar, dan semua pihak lainnya,” pungkas dia.

Sementara itu, Ketua Kota YPLP PGRI Denpasar Drs. I Nengah Madiadnyana, MM., menyampaikan, merayakan ulang tahun sangat penting. “Kalau kita merayakan ulang tahun, itu artinya kita masih hidup,” celetuknya yang disambut gelak tawa hadirin. Ia mengapresiasi semagat sekolah yang berkobar meski ada beberapa keterbatasan.

Madiadnyana menyebut, mengelola lembaga ibaratnya mengayuh pedal sepeda. Jika berhenti mengayuh, maka sepeda akan terjatuh. “Untuk mendapat keseimbangan itu, kita harus terus bergerak,” ajaknya. Di sisi lain, dia menegaskan YPLP Kota PGRI Denpasar belum berencana membuka sekolah baru, melainkan memaksimalkan sekolah yang sudah ada sejumlah 22 sekolah dari jenjang TK,SD,SMP,SMA/SMK. (gde)

 Save as PDF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Gianyar Larang Ogoh-ogoh Berbahan Styrofoam

Sel Jan 30 , 2018
GIANYAR-fajarbali.com | Pemkab Gianyar kembali mengarahkan sekaa taruna di kawasan seni ini, untuk membuat ogoh-ogoh berbahan ramah lingkungan. Bahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gianyar menyiapkan surat edaran yang melarang penggunaan styrofoam untuk ogoh ogoh.  Save as PDF

Berita Lainnya