Disiplin Dalam Physical Distancing Masih Sulit Untuk Diterapkan 

DENPASAR – fajarbali.com | Salah satu protokol kesehatan dalam mencegah Covid-19 adalah dengan menjaga jarak atau physical distancing. Kementerian Kesehatan pun telah mengatur jarak aman dalam bersosialisasi adalah 1-2 meter.

Namun, dari pengalaman di berbagai negara di dunia menunjukkan bahwa physical distancing sangat mudah diucapkan namun pada praktiknya sulit secara konsisten diterapkan. Padahal apabila hal itu dilakukan, maka Covid-19 dapat dikendalikan.

 

“Protokol kesehatan yang paling susah diatur adalah physical distancing pada kerumunan manusia, baik kerumuman dalam kegiatan ekonomi, sosial, maupun agama. Jaga jarak mudah diucapkan, tapi masih sulit untuk dilakukan,” kata Ahli Epidemiologi Universitas Udayana, Prof Dr. DN Wirawan.

 

Ia mengatakan, disiplin menjaga jarak agar tidak terjadi transmisi virus menjadi kunci dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Selain itu penyakit yang disebabkan oleh virus corona itu tidak akan mudah ditularkan apabila masyarakat disiplin menjaga jarak.

 

“Kerumunan yang menonjol khususnya di Kota Denpasar adalah kerumunan di pasar tradisional, baik kerumunan antarpedagang maupun pembeli, termasuk pasar tumpah dan pedagang bermobil. Kondisi ini wajib mendapatkan perhatian serius, karena adaptasi kebiasaan baru (tatanan kehidupan era baru) bukan berarti normal seperti dahulu sebelum adanya Covid-19, ada protokol kesehatan yang harus tetap diterapkan dengan disiplin dan menjadi perhatian bersama,” ujar Wirawan.

 

Untuk pasar tradisional, pasar tumpah dan pedagang bermobil hambatan utamanya adalah karena ruang atau tempat yang sangat terbatas, sedangkan jumlah pedagang sangat banyak. Ini adalah kendala atau hambatan yang paling pelik dicarikan jalan keluarnya.

 

“Tidak mudah membuat keseimbangan antara aspek ekonomi dan aspek kesehatan. Bila ruang yang tersedia cukup memadai maka pengaturan jarak antarpedagang akan lebih mudah. Jika tambahan ruang tidak memungkinkan maka satu-satunya jalan keluar adalah dilakukan pengaturan oleh pemerintah, termasuk jika pemerintah menyediakan lokasi yang tidak melanggar aturan yang berlaku,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, Wirawan menyatakan, di beberapa tempat di Indonesia, jarak antarpedagang diisi pembatas atau partisi. Protokol kesehatan lainnya yang lebih mudah diimplementasikan adalah mengawasi secara terus menerus pemakaian masker dan face shiled bagi pedagang maupun pembeli.

 

“Berbagai kebijakan pasti menimbukan pro dan kontra, tetapi bila tidak diatur maka kerumunan akan tetap terjadi dan pandemi Covid-19 tidak akan ada akhirnya dan masalah yang dihadapi seluruh masyarakat Bali akan semakin lama karena matinya sektor pariwisata sebagai tumpuan utama perekonomian Bali hingga saat ini,” ungkapnya

 

Wirawan menyarankan bahwa pengaturan yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mencarikan tempat bagi pedagang tumpah dan pedagang bermobil dan mengatur mereka secara bergiliran untuk berjualan sehingga jumlah pedagang menjadi lebih sedikit dan jarak mereka bisa diatur menjadi lebih renggang. (dar).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Hadiri Upacara Melaspas dan Mendak Toya, Ketua DPRD Apresiasi Desa Sukadana Bangun Reservoar Secara Mandiri

Ming Jul 19 , 2020
AMLAPURA – fajarbali.com | Ketua DPRD Karangasem I Gede Dana, menghadiri upacara melaspas  dan mendak toya reservoar PAM Desa Toya Amerta Agung Sukadana,Kecamatan Kubu. Gede Dana juga diberikan kesempatan melakukan pemotongan pita tanda diresmikannya reservoar Pam Desa  Toya Amerta Agung Sukadana, di Banjar Bukit, Desa Sukadana,  Sabtu (18/7/2020). 
BPD BALI