Daya Pikat Drama Gong Buleleng Masih Kuat

IMG-20260623-WA0033
Sanggar Seni Nong Nong Kling dari Kabupaten Buleleng mementaskan lakon “Mantri Bongol” pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Ayodya, Senin (22/6).

DENPASAR-fajarbali.com | Di tengah gempuran hiburan modern, Drama Gong ternyata masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Bali. Hal itu terbukti saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari Kabupaten Buleleng mementaskan lakon “Mantri Bongol” pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Ayodya, Senin (22/6).

Ratusan penonton memadati arena pertunjukan. Sebagian besar memang berasal dari kalangan orang tua yang tumbuh bersama kejayaan Drama Gong pada era 1970 hingga 1980-an. Namun, sentuhan kekinian yang disisipkan dalam pementasan membuat seni teater tradisional Bali Utara ini tetap mampu menarik perhatian generasi muda.

Dipentaskan oleh sekitar 40 seniman yang terdiri atas pemain dan penabuh, “Mantri Bongol” hadir dengan kemasan khas Drama Gong Buleleng yang sarat humor, kritik sosial, intrik kerajaan, sekaligus pesan moral yang kuat.

Ketua Sanggar Seni Nong Nong Kling, Nyoman Suardika atau yang akrab disapa Mang Epo, menegaskan bahwa kelompoknya tetap konsisten menjaga identitas Drama Gong gaya Buleleng.

“Di Buleleng, hanya sanggar kami yang masih mampu menampilkan Drama Gong dengan ciri khas Buleleng secara utuh,” ujarnya.

Lakon “Mantri Bongol” mengisahkan seorang kesatria yang mengalami gangguan pendengaran sejak lahir akibat intrik di lingkungan kerajaan. Cerita bermula dari Kerajaan Tibuana, ketika permaisuri pertama yang diliputi rasa iri terhadap permaisuri kedua bersekongkol dengan Patih Jalatunda untuk mencelakai calon pewaris tahta.

Akibat tipu daya tersebut, sang putra kerajaan lahir dalam kondisi tuli dan ibunya kemudian terusir ke tengah hutan. Sang patih yang menjalankan rencana jahat itu justru terkena kutukan hingga berubah menjadi seekor kera.

Alur cerita berkembang penuh konflik, haru, sekaligus humor segar yang menjadi kekuatan utama Drama Gong. Penonton dibuat tertawa oleh tingkah para punakawan, namun di saat yang sama larut dalam adegan-adegan emosional yang dimainkan secara total oleh para aktor.

BACA JUGA:  Jiwa Seni Anak Berkebutuhan Khusus

Keunikan lain terlihat dari cara penyampaian pesan moral. Jika dalam Drama Gong Bali Selatan kebenaran biasanya diwakili tokoh tertentu seperti Patih Anom, dalam gaya Buleleng kebenaran justru lahir dari perjalanan cerita itu sendiri.

“Konsep dharma dan adharma kami bangun melalui alur cerita, bukan melalui tokoh yang sejak awal diposisikan sebagai pembenar,” jelas Mang Epo.

Kekhasan tersebut juga tampak dari absennya tokoh Patih Anom maupun Patih Agung. Sebagai gantinya, hanya ada satu patih antagonis bernama Jalatunda yang menjadi pusat konflik dalam cerita.

Tak hanya kuat dari sisi lakon, pementasan juga didukung tata artistik yang memikat. Latar panggung berubah mengikuti suasana adegan, mulai dari hutan, taman, hingga puri kerajaan. Pergantian backdrop yang dinamis dipadukan tata cahaya dan akting para pemain menciptakan suasana panggung yang hidup dan imajinatif.

Melalui “Mantri Bongol”, Sanggar Seni Nong Nong Kling tidak sekadar menghibur penonton PKB. Mereka juga menunjukkan bahwa Drama Gong gaya Buleleng masih mampu bertahan, beradaptasi, dan terus memikat di tengah perubahan zaman.

Komitmen menjaga warisan seni yang pernah berjaya lewat Drama Gong Puspa Anom pada dekade 1970-an hingga 1980-an itu menjadi bukti bahwa panggung tradisi masih memiliki masa depan, selama ada seniman yang setia merawatnya. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top