DENPASAR - sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Dampak wabah Corona (Covid-19) membuat perekonomian Bali merosot drastis, masyarakat pun dibuat resah. Selain itu, minimnya pemasukan untuk biaya hidup sehari-hari semakin menipis. Kekhawatiran dan keluhan tersebut bermunculan dan menjadi momok di tengah masyarakat.
Untuk mengantisipasi hal terburuk yang disebabkan oleh wabah Covid-19, berbagai kebijakan sebenarnya telah ditempuh pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19, mulai dari physical distancing, kebijakan terkait restrukturisasi kredit, hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Physical distancing atau jarak fisik diterapkan pemerintah sebagai cara untuk menghindari penyebaran virus corona lebih luas.
Pemerhati ekonomi dan pembina wirausaha dari Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Sayu Ketut Sutrisna Dewi menyebutkan, physical distancing untuk memutus rantai covid-19 ini mengakibatkan diterapkannya kebijakan work from home (WFH). Oleh karena itu usaha-usaha atau industri yang paling pertama dan langsung terkena dampak adalah usaha-usaha yang ada kaitannya dengan berpergian dan kerumuman, seperti pendidikan, hotel, restoran, transportasi (terutama udara), MICE, pasar modern dan tradisional, konstruksi, olah raga, dan lain sebagainya beserta usaha-usaha turunannya.
Di sisi lain, WFH memicu berbagai perubahan dan menimbulkan kebutuhan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Gaya bekerja, pertemuan, komunikasi, berbelanja, membayar, belajar-mengajar dan sebagainya mau tidak mau, suka atau tidak suka dipaksa berubah dalam waktu singkat. Perubahan bisa dilakukan dengan cepat dengan menggunakan teknologi ICT. “Kita semua merasakan implementasi industri 4.0 menjadi lebih cepat,” katanya.










