Atasi Krisis Air Bersih di Badung, Perumda Tirta Mangutama Matangkan SWRO

1000660031
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama, I Wayan Suyasa ( kanan) di kantor Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung

MANGUPURA-Fajarbali.com | Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung menyiapkan terobosan mengantisipasi ancaman krisis air bersih di wilayahnya. Selain mengoptimalkan pemanfaatan air hujan, Perumda Air Minum Tirta Mangutama juga mematangkan rencana pengolahan air laut menjadi air bersih melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

 

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama, I Wayan Suyasa mengatakan kualitas maupun kuantitas sumber air permukaan dan air tanah semakin menurun. Untuk itu, ketergantungan terhadap sumber air tersebut tidak bisa terus dipertahankan. "Debit sungai juga terus berkurang. Sementara air laut tidak pernah habis," ujar Suyasa, Minggu (7/6) lalu.

 

Suyasa mengungkapkan, saat ini proyek SWRO masih berada pada tahap pemantapan feasibility study (FS) atau studi kelayakan. "Perumda Tirta Mangutama bersama pemerintah tengah menyiapkan berbagai tahapan lanjutan, mulai dari seleksi mitra, penyusunan kajian akademis hingga penyempurnaan aspek hukum dan perizinan," ungkapnya.

 

Selanjutnya, penetapan tarif nantinya akan disesuaikan dengan segmentasi pelanggan yang menjadi sasaran layanan. "Masalah harga masih dibahas lebih detail. Yang jelas pemanfaatannya akan diatur sehingga tidak memberatkan masyarakat," tegas Suyasa.

 

Selain mengembangkan SWRO, Perumda Tirta Mangutama juga fokus memanfaatkan air hujan yang selama ini banyak terbuang. Menurut Suyasa, sejumlah wilayah di Badung sering mengalami limpahan air yang berakhir di laut tanpa sempat dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Untuk itu pihaknya sedang memetakan sejumlah titik potensial yang bisa dibangun fasilitas pengolahan air. "Sekarang kami sedang mengkaji titik-titik mana yang bisa dibangun fasilitas pengolahan. Jadi sebelum air itu terbuang atau menimbulkan banjir, bisa kami ambil dan olah menjadi air bersih," kata Suyasa.

 

Konsepnya, air hujan yang terkumpul atau aliran sungai yang melimpah saat musim penghujan dapat segera ditangkap dan diolah menjadi air bersih sebelum terbuang. Langkah diversifikasi sumber air tersebut dinilai penting mengingat eksploitasi air tanah yang berlebihan berpotensi memicu intrusi air laut dan penurunan kualitas lingkungan. "Karena itu, pemanfaatan air hujan dan air laut diproyeksikan menjadi dua sumber air alternatif yang akan menopang kebutuhan air bersih masyarakat Badung di masa mendatang," pungkasnya.W-004

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top