Ini Kata Dasi Astawa, Dampak Beroperasinya Perguruan Tinggi Asing di Indonesia

DENPASAR-fajarbali.com | Pemerintah Indonesia belum lama ini menyatakan keterbukaan terhadap perguruan tinggi (PT) asing beroperasi di dalam negeri. Tentu hal tersebut menjadi angin segar bagi perkembangan pendidikan dan teknologi di Indonesia.



Namun demikian, beberapa kalangan mempertanyakan dampak yang ditimbulkan. Salah satu yang disoroti, yakni masalah izin yang seolah mendorong adanya liberalisasi, dan juga akan mematikan eksistensi perguruan tinggi lokal.

Izin penyelenggaraan pendidikan tinggi asing tentu harus didasari adanya regulasi yang jelas. Regulasi itu untuk mengatur PT asing yang layak diberikan kepercayaan menyelenggarakan pendidikan di dalam negeri. Hal itu disampaikan Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VIII Bali-Nusra, Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, (6/2/2018).

Lebih lanjut dijelaskan, pemerintah harus melihat kualitas PT asing yang masuk ke Indonesia. Ia mencontohkan, perguruan tinggi asing itu harus berpredikat minimal menduduki ranking 200 PT terbaik di dunia. Jika poin itu sudah diperhatikan, terang Dasi, keberadaan PT asing tidak akan berdampak buruk bagi Indonesia.



“Kalau di bawah itu (200 besar PT terbaik dunia), saya yakin kualitas atau output yang dihasilkan juga tidak bagus. Tidak mampu memberi akselerasi bagi pembangunan di Indonesia,” ketusnya.

Terkait dengan kritik beberapa pihak terkait isu tersebut, Dasi Astawa menanggapi santai. Menurutnya, kebijakan pemerintah membuka pintu bagi PT asing adalah upaya mensinergikan mutu dan kemajuan negara. Untuk mewujudkan kemajuan itu, perlu ada semacam kolaborasi antara perguruan tinggi di Indonesia dengan luar negeri.

“Upaya kita tentu memperbaiki manajemen, kualitas SDM, supaya kita dijadikan partner oleh mereka. Kalau sudah begitu, adanya kolaborasi bukan hal yang tidak mungkin,” katanya seraya menegaskan, kebijakan pemerintah Indonesia tetap berpihak memberi keuntungan kepada perguruan tinggi lokal.

Masih kata Dasi, banyak benefit yang didapat dari kolaborasi dua perguruan tinggi itu, seperti mendatangkan pakar dari luar yang memiliki kecakapan ilmu pengetahuan langka, atau yang belum dimiliki Indonesia.



“Kita datangkan dosen-dosen yang andal itu untuk ikut mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia, seperti misalnya di ilmu kedokteran. Banyak problem yang kita harus tuntaskan, tentu akan melibatkan para ahli luar negeri. Ini kan jelas ada untung. Jangan dipandang dari segi negatif saja, tapi kita lihat apa untung yang kita dapat. Kita akui hal ini memang tidak bisa dibendung,” ungkapnya.

Dengan masuknya perguruan tinggi asing ke Indonesia, tambah Dasi, masyarakat seharusnya tidak menganggap itu sebagai ancaman. Justru hal itu menjadi acuan dalam meningkatkan kualitas PT lokal.

Dasi Astawa berujar, di zaman globalisasi seperti ini, wajar saja jika berbagai perubahan akan terjadi. Tak terkecuali bidang pendidikan dan penelitian. Bahkan, hal itu akan memberi peluang bagi masyarakat Indonesia melanjutkan pendidikan ke lembaga milik luar negeri.

“Jangan sampai kita jadi paranoid. Kan masih untung kalau anak-anak kita masuk ke perguruan tinggi luar negeri. Hanya saja lokasinya di Indonesia. Bahkan lebih rugi lagi kalau orang Indonesia ke luar negeri, bisa capital flight (Peralihan modal). Mereka untung, warga negara kita menginap di sana, makan di sana, dan lain-lain,” pungkasnya bersemangat. (eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pengusaha Transportasi di Bali Dilarang Menggunakan Kendaraan Berplat Luar

Rab Feb 7 , 2018
DENPASAR-fajarbali.com | Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) Provinsi Bali I Made Sukadana, SH.MT bersama Kadis Bapenda Bali I Made Santha , SE.M.Si melaksanakan rapat klarifikasi terkait maraknya perusahaan transportasi yang menggunakan kendaraan plat luar Bali.