Anak Petani di Pelangan Lombok Tiba di Pendakian Puncak Akademik

IMG-20260824-WA0017
Dr. I Nyoman Suarna, SH., MH., (delapan dari kanan) bersama para penguji dan keluarga, usai Ujian/Sidang Terbuka Promosi Doktor, Program Doktor, Program Studi Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Senin (24/8/2026). [foto: IGA Adnyana].

*Meski hidup di keluarga petani miskin di dusun terpencil, Suarna kecil berani menulis mimpinya di sebuah buku kumal dengan menambahkan Profesor dan gelar Doktor di depan namanya. Hari ini pun, mimpinya terwujud.

DENPASAR-fajarbali.com | I Nyoman Suarna, SH., MH., berhak menyandang gelar akademik tertinggi, Doktor (Dr) setelah berhasil mempertahankan Disertasi "Dinamika Perlindungan Hak Perempuan 'Nyerod' dalam Perkawinan Antarwangsa pada Masyarakat Hindu di Lombok". 

Suarna secara resmi menuntaskan pendakian akademik doktoralnya usai Ujian/Sidang Terbuka Promosi Doktor, Program Doktor, Program Studi Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Senin (24/8/2026).

Suarna dipromotori oleh Prof. Dr. IB Gde Yudha Triguna, MS., dan Dr. Ida Ayu Ketut Surya Wahyuni, S.Sos. M.Si. Suarna merupakan dosen di Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) I Gde Pudja, Mataram sejak 2003. 

Terlepas dari pencapaian akademiknya, ada kisah haru dalam perjalanan hidup Suarna. Lahir dari pasangan petani miskin, I Made Sakra dan Ni Nengah Rasni (alm), hidup Suarna kecil dihabiskan di sawah. Sungai dan pematang menjadi tempat bermain. 

Suarna yang menghabiskan masa kecil hingga remaja di kampung halamannya, Dusun Pengendan, Desa Pelangan, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tidak banyak mimpi yang ingin diraih Suarna kecil. Sebab, dari membuka hingga menutup mata, yang ia lihat hanya petani, pematang dan sungai. 

Memasuki usia sekolah dasar. Suarna mulai mengenal nama-nama menteri kabinet era itu. Salah satunya adalah menteri pendidikan yang berisi embel-embel profesor di depan namanya. Suarna kecil pun berani menulis mimpinya dalam sebuah buku kumal. 

"Saya tulis nama saya Profesor Doktor I Nyoman Suarna. Akhirnya tercapai juga doktor hari ini. Tentu berkat Hyang Widhi, doa orang tua, istri, anak dan semua pihak yang men-support saya," jelas Suarna, usai sidang terbuka. 

BACA JUGA:  Unud Terima Kunjungan Studi Banding UPN "Veteran" Bahas Indikator Kinerja Utama dan MBKM-MSIB

Sehingga ia merasa capaiannya hari ini bukan miliknya. Melainkan milik orang-orang terkasih yang mendukungnya. Suarna sendiri merasa masih dalam buaian mimpi setelah perjuangannya meraih gelar doktor hampir kandas. 

Jika ditarik kebelakang lagi, sebelum berhasil menembus profesi dosen, Suarna pernah bekerja di sebuah hotel di senggigi, Tenaga Pendaping Pertanian di Kabupaten Sumbawa , mengajar di SMA Saraswati Mataram, SMA Lingsar, SD 17 Mataram, juga SMK 2 Kuripan tahun 2002-2003.

"Waktu kecil dulu, almarhum ibu saya selalu menunjuk orang-orang yang berseragam sekolah. Beliau bilang 'harus masuk'. Dulu kan ada stigma kalau sekolah 'kelas tulange'. Artinya sampai remuk tulang orangtua membiayai pendidikan. Tapi nyatanya enggak begitu," kenangnya. 

Namun ia mengakui perjuangannya tidak mudah. Ia mesti menempuh perjalanan air dan darat. Dari kampung naik jukung, lanjut mencegat truck menuju SMP di Gerung. Bahkan kalau nasib lagi tidak mujur, Suarna harus rela berbagi dengan muatan penuh pindang. Jadilah sekujur tubuhnya ikut berbau amis. 

Terkait penelitian disertasinya, Suarna menjelaskan, bahwa perkawinan antarwangsa pada masyarakat Hindu di Lombok merupakan fenomena sosial budaya, agama, dan hukum yang mempertemukan sistem kewangsaan dengan dinamika perlindungan hak perempuan 'nyerod'. 

Meskipun dominasi wangsa mengalami pelemahan malahui proses dewangsanisasi, perubahan tersebut tidak serta-merta menghilangkan berbagai konsekuensi sosial, simbolik, dan kultural yang dialami perempuan. 

Penelitiannya bertujuan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya dinamika perlindungan hak perempuan 'nyerod', bentuk dinamika perlindungan yang berlangsung melalui interaksi hukum adat, hukum agama Hindu, hukum negara, dan hak asasi manusia, serta implikasinya terhadap kehidupan perempuan dan masyarakat Hindu di Lombok.

Relevansi hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika perlindungan hak perempuan 'nyerod' didorong oleh proses dewangsanisasi, meningkatnya pendidikan dan mobilitas sosial, perubahan praktik adat, perkembangan hukum negara dan kesadaran hak asasi manusia, serta reinterpretasi ajaran Hindu. 

BACA JUGA:  Dosen FKIK Universitas Warmadewa Raih Lulusan Terbaik Wisuda ke-177 Program Doktor Universitas Udayana

Bentuk perlindungan tidak berlangsung melalui dominasi satu sistem normatif, tetapi melalui interaksi dan negosiasi antara hukum adat, hukum agama Hindu, hukum negara, dan bak asasi manusia dalam arena pluralisme hukum. 

"Dalam ranah keagamaan, reinterpretasi nilai dharma, ahimsa, guna-karma, penghormatan terhadap martabat perempuan, serta keteladanan pedanda, pemangku, dan tokoh agama memberikan legitimasi internal bagi berkembangnya penerimaan dan perlindungan yang lebih inklusif terhadap perempuan nyerod," kata dia. 

Dinamika tersebut berimplikasi pada menguatnya pengakuan sosial, kesetaraan gender, perlindungan sosial partisipasi keagamaan, serta rekonstruksi makna nyerod dari simbol penurunan status menuju pengalaman perkawinan yang lebih berorientasi pada martabat perempuan, tanpa menghilangkan wangsa sebagai identitas sosial-kultural. 

Kebaruan penelitian ini adalah Model Negosiasi Perlindungan Hak Perempuan Nyerod yang menjelaskan bahwa perlindungan hak terbentuk melalui proses dewangsanisasi, pluralisme normatif, pengakuan sosial, dan negosiasi antara adat agama Hindu, hukum negara, dan hak asasi manusia. 

Model tersebut menunjukkan transformasi perlindungan dari orientasi berbasis stratifikasi kewangsaan menuju perlindungan yang semakin berorientasi pada martabat manusia, kesetaraan, dan keadilan.

Dr. I Nyoman Suarna, SH., MH., menikah dengan Dr Dewi Rahayu Aryaningsih.,S.Ag.,M.Ag. Pasangan ini dikaruniai tiga buah hati, yakni Ni Putu Putri Saraswati, I Made Krisna Putra Nugraha dan I Komang Bagus Wahyu Dyatmika. Suarna pun tercatat sebagai doktor ke-218 ya g dilahirkan UNHI Denpasar. [gde]

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top