Tim UNHI Bikin Kajian Agar Investasi Merata di seluruh Bali

IMG-20260610-WA0001
Para peserta dan nara sumber Focus Group Discussion (FGD) tahap 1 sebagai awal kajian indentifikasi potensi perekonomian di luar Sarbagita, di Kampus UNHI, Selasa (9/6/2026).

*Selama ini, 93 persen investasi terpusat di kawasan Sarbagita.

*Tim Kajian LPPM UNHI mengidentifikasi potensi perekonomian di luar Sarbagita untuk memberikan gambaran calon investor.

DENPASAR-fajarbali.com | PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Bali melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), menggandeng Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar dalam menggenjot investasi di Pulau Dewata, khususnya di daerah luar Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan (Sarbagita).

UNHI lantas membentuk tim kajian di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Tim kajian yang diketuai Dr. I Putu Fery Karyada, S.Pd., MA., serta empat anggota yang merupakan dosen UNHI lintas keilmuan yaitu Dr. Ir. Made Novia Indriani, ST., MT; Dr. I.A Putu Widani Sugianingrat, SE, MM; Dr. Putu Nuniek Hutnaleontina, SE., M.Si; Sang Ayu Putu Arie Indraswarawati, SE.,M.Si, Ak.,CA; dan I Nengah Artawan, S.Pd.H., M.Pd.H

Sebagai langkah awal, tim kajian menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengundang seluruh pemangku kepentingan di kabupaten/kota, provinsi, pelaku pariwisata, pengusaha serta dua narasumber, ekonom Prof. Dr. IB Raka Suardana, SE., MM., serta Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali I Made Ariandi, berempat di Kampus UNHI, Selasa (9/6/2206).

Ketua LPPM UNHI Dr. Ir. Made Novia Indriani, ST., MT., menjelaskan, diskusi ini bertujuan mengumpulkan informasi terkait prioritas pemetaan potensi perkonomian di luar Sarbagita. Pihaknya memiliki waktu tiga bulan menyelesaikan kajian tersebut.

Nantinya, hasil kajian ini tidak sekadar menjadi acuan pemangku kebijakan, namun referensi bagi investor agar tidak ragu-ragu menanamkan modalnya di kawasan Bali Utara, timur dan tengah.

"Jadinya semacam dokumen kelayakan investasi juga," ujar Novia Indriani.
Novia Indriani, melanjutkan, kajian yang dilakukan tim UNHI memiliki karakteristik yang khas, yakni memasukkan unsur filosofis dan historis. Sebab, masyarakat Bali meyakini tiap jengkal tanah memiliki taksu tersendiri.

BACA JUGA:  Pembangunan Jalan Baru Batas Kota Dipastikan Sampai Titik 12

Kajian ini, selain didasari oleh peraturan daerah terkait industri dan investasi, kami juga mengacu pada referensi buku Ekonomi Kerthi Bali oleh Bapak Wayan Koster serta Buku PadmaBhuana yang ditulis Cok Ace.

"Dalam referensi itu di Bali ini memiliki diferensiasi potensi serta tiap kabupaten/kota sudah disangga Dewa masing-masing. Kami jadikan acuan agar investasi tumbuh tanpa menggerogoti kearifan lokal," imbuh dia.

Berdasarkan pemetaan awal, pihaknya meyakini daerah luar Sarbagita punya potensi besar untuk dikembangkan, selain sektor pariwisata. Agroindustri dinilai punya prospek tinggi. Disamping itu, pariwisata berbasis desa, khususnya Bali Aga tidak kalah menariknya.

Kepala Dinas DPMPTSP Dr. I Ketut Sukra Negara, S.Sos., M.Si., memaparkan, sesuai arahan Presiden Prabowo, pertumbuhan ekonomi ditarget 8 persen di tahun 2029. Angka yang menurutnya relatif tinggi sehingga investisai mesti digenjot sebagai salah satu indikator.

Provinsi Bali, lanjut Sukra, tahun ini diberikan target investasi Rp47,8 Triliun. Naik dari target tahun sebelumnya sebesar Rp45 Triliun, dan berhasil direalisasikan sekitar Rp42 Triliun. Dengan naikknya target ini, pihaknya memerlukan kolaborasi lintas sektoral, seperti yang dilakukan bersama UNHI.

Dari sisi jenis investasi, masih didominasi sektor terserier [mencakup pariwisata] sebesar 68,33 persen, skunder (2,04 persen) dan sektor primer [pertanian dalam arti luas] sebesar 0,84 persen. Investor didominasi dari Australia, Singapura, Rusia dan Prancis. Sebaran investasi pun, menumpuk di Sarbagita sebesar 93 persen. Sisanya, 7 persen menyebar di lima kabupaten. "Jadi gap-nya sangat jelas tidak merata," ungkapnya.

Untuk itu, ia berharap, kajian tim UNHI mampu membantu iklim investasi yang sehat, menjunjung nilai kearifan lokal sesuai visi Gubernur Bali yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat. "Kami harap sektor skunder dan primer ini yang dimaksimalkan," harapnya.

BACA JUGA:  Memeriahkan Bulan Bakti Bung Karno dan Hari Jadi Kota Amlapura ke-381,Gelar Pasar Gotong Royong

Kedua narasumber sepakat bahwa untuk memerarakan perekonomian di Bali, diperlukan dukungan infrastruktur. "Kalau infrastruktur sudah bagus, saya yakin investor pasti tertarik. Karena infrastruktur adalah kunci," kata IB Raka Suardana.

Soal potensi, IB Raka Suardana, meyakini tiap kabupaten memiliki kekhasan sendiri yang belum tentu ada di provinsi lain. Hal ini lah sesungguhnya menjadi modal Bali dalam menarik hati investor.

Sementara itu, Made Ariandi, mengatakan, pelaku usaha di luar Sarbagita memang masih minim. Dengan adanya upaya awal pemetaan indentifikasi sektor unggulan, pengembangan ke depan menjadi lebih mudah.

Ditanya soal apakah regulasi termasuk awig-awig dari desa adat menjadi hambatan investor? Ia dengan tegas menyangkal. Malah ia mendukung regulasi yang kuat agar investasi yang datang berkualitas tinggi. Kadin pun mengaku telah menangkap berbagai potensi yang bisa dikembangkan di seluruh Bali.

Diskusi dibuka oleh Wakil Rektor I UNHI Dr. I Komang Santhyasa, ST., MT., melalui kajian ini, UNHI membuktikan mampu menjadi kampus berdampak. Sebab menurutnya tugas perguruan tinggi tidak sebatas mencetak sarjana tapi turut menjadi pemecah masalah dan menghadirkan solusi. (gde)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top