Jadi BUMN yang Menguntungkan, Komisaris Telkom: Kami Adaptif!

IMG-20260207-WA0001
Komisaris Telkom Rizal Malaranggeng (kanan) menyampaikan paparan dalam Media Gathering “TLKM 30: Menyatukan Teknologi, Konten dan Distribusi untuk Pertumbuhan Bersama 5-6 Februari 2026 di Denpasar.

DENPASAR-fajarbali.com | Di era pemerintahan Pesiden Prabowo Subianto, menguat wacana perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari seribu lebih menjadi hanya sekitar 300 perusaan.

Langkah strategis itu diambil mengingat sebagian BUMN merugi. Jika terus dibiarkan, tidak hanya menggangu keuangan negara tetapi menutup masa depan para pekerjanya.

"Ibarat kapal, mesinnya sudah rusak. Sudah bocor enggak bisa diperbaiki lagi buat apa dipertahankan. Lebih baik menguatkan (BUMN) yang sehat-sehat," jelas Komisaris PT Telkom Rizal Malaranggeng.

Rizal yang hadir di sela Media Gathering dan Pelatihan Jurnalistik Mendalam dari Tim Publisiana di Denpasar, Jumat 6 Februari 2026, menegaskan bahwa Telkom menjadi salah satu BUMN yang sehat.

Indikatornya, Telkom mencatatkan pendapatan mencapai Rp157 triliun dan laba bersih Rp23 triliun di tahun 2025. Adaptif menurut Rizal menjadi kunci dibalik keberhasilan Telkom menghadapi era disrupsi.

Meski demikian Rizal mengingatkan tantangan Telkom jauh lebih berat dibandingkan BUMN besar lainnya seperti PLN atau Pertamina. Jika PLN masih menggunakan infrastruktur kabel tembaga dan sistem energi yang relatif stabil, Telkom harus menghadapi revolusi teknologi yang berubah setiap lima tahun—mulai dari migrasi kabel tembaga ke serat optik (IndiHome) hingga munculnya raksasa global seperti WhatsApp, Google, dan Facebook.

Ia memberikan perbandingan tajam antara Telkom dan entitas BUMN lainnya. Ia menyebutkan bahwa dari ribuan BUMN yang ada, kontribusi pendapatan terhadap PDB nasional mencapai 9 persen. Namun secara value hanya sekitar 5 persen. Banyak yang merugi dan membebani ekonomi.

Contoh misalnya maskapai Merpati yang dulu sangat vital, tapi sekarang tinggal puing-puing karena gagal mengimbangi zaman. Sementara Telkom, dalam 3-4 dekade terakhir, mampu berkembang di luar sektor perbankan (Himbara).

BACA JUGA:  Kampanye Musim Panas 2023, Vietjet Tawarkan Satu Juta Tiket Super Murah

Lebih lanjut, Rizal memaparkan Telkom melalui Danatara bakal menggenjot tiga langkah strategis, diantaranya Data Center & Cloud: Melalui fasilitas di Cikarang (75 MW) dan Singapura, Telkom mulai masuk ke bisnis "gudang digital" dan kecerdasan buatan (AI), meskipun harus berpartner dengan pemain global untuk mempercepat penguasaan teknologi.

Kedua, Mitratel: Menguasai 30 persen menara telekomunikasi di Indonesia dengan 40.000 tower, Telkom berambisi menjadi penguasa pasar Asia melalui skala besar dan akuisisi.

Dan ketiga adalah Solusi Digital (Enterprise): Menciptakan solusi digital bagi korporasi dan pemerintah guna memastikan pertumbuhan di atas rata-rata nasional.

Ia berpendapat, salah satu ancaman sekaligus peluang terbesar saat ini adalah teknologi satelit rendah (LEO) milik Elon Musk, Starlink. Rizal mengungkapkan bahwa Telkom memilih strategi adaptif ketimbang defensif. Sekali lagi, adaptasi adalah kunci.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top