Kriya Loka Yowana, Cara Kreatif KPU Badung Membumikan Demokrasi di Kalangan Yowana

2026-01-29-at-14.23.03
Bukan sekadar seni, KPU Badung jadikan prosesi Ogoh-Ogoh laboratorium demokrasi.

MANGUPURA-fajarbali.com | Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Badung melakukan terobosan inovatif dengan mengintegrasikan nilai-nilai demokrasi ke dalam akar budaya lokal. Melalui program bertajuk "Kriya Loka Yowana: Demokrasi Berbudaya", KPU Badung menegaskan bahwa esensi kepemimpinan dan partisipasi tidak hanya muncul saat pemungutan suara, namun tumbuh subur dalam tradisi keseharian masyarakat Bali.

Langkah ini diambil sebagai bentuk pendekatan persuasif kepada generasi muda atau yowana agar lebih memahami politik melalui lensa kearifan lokal. Agung Rio Swandisara, anggota KPU Kabupaten Badung, menyatakan bahwa demokrasi semestinya dirasakan sebagai napas dalam aktivitas sosial, bukan sekadar prosedur formal lima tahunan yang kaku.

“Fokus utama program ini adalah tradisi Ogoh-ogoh, sebuah mahakarya seni yang rutin dibuat menjelang Hari Raya Nyepi. Tradisi ini dinilai memiliki kemiripan prinsip dengan sistem demokrasi, di mana di dalamnya terkandung proses musyawarah, pembagian peran yang adil, serta tanggung jawab kolektif demi mencapai tujuan bersama,” jelas Agung Rio.

Dalam pelaksanaannya, KPU Badung menyasar kreativitas karang taruna di berbagai banjar untuk menggali filosofi di balik desain Ogoh-ogoh mereka. Salah satu momen krusial terjadi pada 28 Januari 2026, saat tim KPU mengunjungi Sekaa Teruna Arsa Manu Abdi Dharma (ARMADA) di Banjar Muncan, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi.

Di Banjar Muncan, para pemuda menghadirkan konsep visual yang sangat mendalam melalui simbol Kupu-Kupu Tarum. Deretan kupu-kupu yang saling terhubung dalam struktur Ogoh-ogoh tersebut menjadi representasi visual dari kekuatan kolektif dan keterhubungan antarindividu dalam membangun harmoni sosial yang kokoh.

Undagi atau konseptor Ogoh-ogoh ST. ARMADA, Adit dan Esa, menjelaskan bahwa inspirasi mereka berakar dari pamor Keris Kupu-Kupu Tarum. Secara filosofis, pamor keris ini melambangkan kewibawaan, perlindungan, dan kemuliaan jiwa yang didapat melalui proses tempaan yang panjang dan penuh disiplin.

BACA JUGA:  Melalui Danu Kerthi, Memelihara Peradaban Air

Bagi para yowana di Banjar Muncan, Kupu-Kupu Tarum bukan sekadar hiasan estetis, melainkan simbol perjuangan menuju keindahan sejati. Mereka meyakini bahwa sebagaimana keris yang indah lahir dari tempaan api, demokrasi yang bermartabat juga lahir dari proses panjang yang mengedepankan etika dan kerja keras.

Hubungan antar-kupu-kupu yang saling mengait ditegaskan sebagai pesan persatuan dan gotong royong. Pesan ini selaras dengan prinsip demokrasi di mana setiap individu memiliki peran unik yang saling mendukung untuk mewujudkan kepemimpinan yang berintegritas dan berkelanjutan di masa depan.

Agung Rio Swandisara menambahkan bahwa pendekatan kultural seperti ini jauh lebih efektif bagi generasi z dan milenial. “Dengan masuk ke ruang kreatifitas mereka, nilai-nilai kepemimpinan yang jujur dan adil dapat terserap secara organik tanpa terkesan seperti menggurui secara doktrinal,” ujarnya.

“Ogoh-ogoh mengajarkan kita tentang proses pengambilan keputusan secara mufakat. Tidak ada satu Ogoh-ogoh pun yang bisa berdiri megah tanpa kerja sama tim yang solid,” sambung Agung Rio. Hal inilah yang menjadi cerminan nyata dari praktik demokrasi partisipatif di tingkat akar rumput.

KPU Badung berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi pendidikan pemilih yang inklusif dan berakar pada kearifan lokal. Dengan program ini, diharapkan masyarakat, khususnya pemilih muda, dapat melihat proses politik sebagai bagian dari upaya menjaga kehormatan dan budaya daerah.

Rangkaian kegiatan Kriya Loka Yowana ini dijadwalkan berlangsung intensif mulai akhir Januari hingga puncak perayaan Hari Raya Nyepi mendatang. Selama periode ini, KPU akan terus mendampingi dan memberikan edukasi kepada berbagai komunitas pemuda di seluruh wilayah Kabupaten Badung.

Integrasi antara seni dan politik ini diharapkan mampu menekan angka apatisme pemilih muda. Dengan memahami bahwa suara mereka adalah bagian dari "seni membangun bangsa", diharapkan tingkat partisipasi dalam pemilu mendatang akan meningkat secara kualitas maupun kuantitas.

BACA JUGA:  Bupati Mahayastra Turut Mengukir Relief Pura Beji Beji Dalem Jantur, Cikal Bakal Lahirnya Desa Mas, Ubud

Keberhasilan program di Banjar Muncan menjadi pilot project yang menunjukkan betapa kuatnya dampak jika nilai demokrasi dibalut dengan identitas budaya. KPU Badung berharap semangat Kupu-Kupu Tarum ini dapat menginspirasi banjar-banjar lain untuk melihat demokrasi sebagai sebuah karya seni kolektif yang harus dijaga keindahannya.

Menutup keterangannya, pihak KPU Badung menegaskan kembali bahwa tujuan akhir dari program ini adalah mewujudkan demokrasi yang tidak hanya partisipatif, tetapi juga berbudaya. Nilai kepemimpinan yang berintegritas kini bukan lagi sekadar jargon, melainkan janji yang dipahat dalam semangat gotong royong para yowana Bali. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top