HARI Anak Sedunia adalah momen penting untuk melihat kembali bagaimana kondisi tumbuh kembang anak-anak Indonesia. UNICEF (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa) dalam berbagai laporannya menegaskan bahwa kualitas gizi dan pengasuhan di awal kehidupan merupakan fondasi masa depan sebuah bangsa.
Tahun ini, Indonesia menunjukkan kemajuan dalam penurunan masalah gizi. Tetapi data juga mengingatkan kita bahwa jutaan anak masih menghadapi ancaman stunting, wasting, rendahnya cakupan imunisasi di beberapa daerah dan perubahan perilaku pengasuhan di era modern. Kondisi ini membuat peran keluarga, komunitas, dan kebijakan pemerintah menjadi sangat krusial.
Ancaman Sunyi yang Masih Mengincar Jutaan Anak Indonesia
Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan bahwa angka stunting nasional turun menjadi 19,8%, sebuah pencapaian besar setelah satu dekade upaya kolektif.
Meskipun demikian, angka tersebut berarti bahwa sekitar 4,48 juta balita masih mengalami stunting—sebuah kondisi yang tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak, imunitas, dan kemampuan belajar anak..Karena dampaknya bersifat jangka panjang, pencegahan sejak usia 0–23 bulan tetap menjadi prioritas utama.
Di samping stunting, Indonesia juga masih menghadapi persoalan wasting atau kurus akut. UNICEF menyebut wasting sebagai salah satu tanda kegawatdaruratan gizi karena anak yang mengalami wasting memiliki risiko kematian lebih tinggi.
Kondisi ini dapat muncul tiba-tiba akibat penyakit infeksi, pola makan tidak memadai, atau kondisi sanitasi yang buruk. Ketika suatu wilayah menghadapi stunting dan wasting sekaligus, kerentanan anak meningkat drastis.










