4 Lansia Kurang Mampu, Bertahan Hidup Dari Hasil Menenun Tradisional

(Last Updated On: )

AMLAPURA-fajarbali.com | Semangat hidup empat orang lansia asal Dusun Sidekarya, Desa Sidemen, Kecamatan Sidemen, Karangasem patut diacungi jempol. Di usia senjanya, keeampatnya bertahan hidup dengan membuat kain tenun tradisional. Untuk menghasilkan satu ikat kain tenun dengan motif tradisional ini, mereka membutuhkan waktu selama enam bulanan. 


Seperti kebanyakan perempuan lainya, Ni Nyoman Robi, Ni Nengah Nyemper, dan Nyoman Nuning mulai menggeluti kerajinan menenun kain songket asli Sidemen, sudah mulai dilakukan sejak masih remaja. Tak terbilang, ribuan kain tenun sudah bisa dihasilkan sejak remaja hingga masa tuanya. Pekerjaan menenun, merupakan salah satu penopang hidupnya. Karena dari menenunlah, mereka bisa bertahan hidup hingga saat ini. 

Saat koran ini menyambanginya, pada Sabtu (10/4/2021), tampak Ni Nyoman Robi, Ni Nengah Nyemper, terduduk di tempat tinggalnya di sisi utara, begitu pula Nyoman Nuning duduk dirumah sederhana yang beratapkan seng dan tembok yang terbuat dari tanah di sisi sebelah timur. Mereka sementara tidak menenun karena akan hari raya. Sesuuai kepercayaan masyarakat, setiap hari raya pantang untuk bekerja menenun secara tradisional. Di sela-sela itu, Ni Nyoman Robi bercerita, ia bersama suadaranya kandung, Ni Nengah Nyemper, serta dua saudara sepupunya Ni Nyoman Nuning dan I Nengah Darpa, memang tidak menikah. Mereka tinggal dalam satu pekarangan. Pun saat ditanya usia, keempatnya hanya mengingat saat jaman penjajahan Jepang, mereka sudah berusia remaja.

“Jaman Jepang sudah biasa munuh (mencari sisa padi saat panen),” ucapnya sambil terduduk di dekat alat tenun yang terlihat sudah tua. 

Dengan sesekali menahan rasa sakit pada lututnya, Nyoman Robi bercerita, selama ini mereka berempat ini diurus oleh keponakanya. Akan tetapi, dimasa senajanya ini dirinya bersama saudaranya tetap melaksanakan aktivitas menenun sebagai salah satu mata pencaharian. Dalam kondisi sehat, satu ikat kain songket mampu dibuat selama sebulan penuh. Tetapi, dengan kondisi sekarang yang sudah tidak kuat lagi untuk duduk, satu ikat kain songket khas Sidemen bisa diselesaikan selama enam bulan.

“Karena sakit-sakit sekarang jarang menenun, untuk kain yang ukuran 80 x 80 centimeter perlu waktu sampai enam bulan,” ujarnya.

Baca juga :
Tangani Pandemi, Wabup Patriana Galang Dukungan Masyarakat
Pelaksanaan Program Pendukung “Open Borders” Terus Dikebut

Saat kain tenun songket setelah jadi,ucap Robi, pihaknya dibantu oleh tetangganya untuk menjualnya. Untuk harga satu kain songket hasil kerajinanya, dijual seharga Rp 700 ribu. Sedangkan, bahan yang dihabiskan berkisar Rp 200-300 ribu. Bahan-bahan didapatkan dari keponakanya yang membelikan di pasar.

“Biasanya ada tetangga yang membantu menjualkanya setiap kali menyelesaikan kain songket,” ujarnya lagi.

Sementara, Kepala Wilayah Dusun Sidekarya, sekaligus keponakan keempat lansia ini, I Wayan Sukada, mengakui, keempat bibi dan pamanya memang tidak menikah. Ia juga mengakui jika selama ini jarang mendapat bantuan pemerintah. Alasanya, karena dirinya sebagai kepala wilayah yang tidak enak dengan masyarakat jika harus memberikan bantuan kepada mereka.

“Padahal kalau dari segi hidup mereka sangat layak mendapat bantuan, rumah yang ditempati sekarang dulu bantuan dari pemerintah berupa rehab rumah, kalau sekarang saya malah tidak enak memprioritaskan mereka, karena saya sendiri sebagai kepala wilayah disini,” ujarnya.

Sukada juga mengatakan, keempat bibi dan pamanya ini bukanlah saudara kandung, tetapi mereka bersepupu. Akan tetapi, selama ini mereka berempat memasak setiap harinya dalam satu dapur. Dikatakan, untuk keperluan memasak setiap harinya memang dirinya yang menyiapkan,hanya memasak saja mereka sendiri.

“Kalau bantuan pemerintah dulu sempat mendapat beras, sekarang tidak lagi, dan ada saja yang memberi mereka bantuan, tetapi kalau sudah bantuan pemerintah saya menyerah,” ujarnya.

Sukada beralasan, warga kurang mampu seperti bibi dan pamanya itu di wilayah Dusun Sidakarya cukup banyak. Sehingga jika ia hanya mementingkan keluarganya sudah pasti akan menjadi cibiran. Selain itu, dari 160 KK warga Sidakerya, sebagian besar kaum perempuanya sebagai pengerajin tenun tradisional.

“Sebagian besar terutama kaum perempuan sebagai penenun dengan mempergunakan alat tenun tradisional,” ujarnya lagi. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Desa Amerta Bhuana Berharap Program Menggerakan Perekonomian

Rab Apr 28 , 2021
(Last Updated On: )AMLAPURA-fajarbali.com | Masih berlangsungnya Pandemi Covid-19 saat ini membuat merosotnya perekonomian masyarakat. Selain banyak warga yang di PHK oleh tempatnya bekerja, warga juga banyak kehilangan mata pencaharian. Untuk itu diperlukan luncuran program dari pemerintah provinsi maupun kabupaten untuk menggerakan perekonomian di Desa. Hal itu dikatakan, Perbekel Desa […]

Berita Lainnya