Tekan Laju Inflasi Bali, Distanpangan Gelar Pasar Murah di Desa Sumerta Kauh

Produk yang dijual adalah barang-barang kebutuhan pokok, seperti beras, minyak goreng, buah, sayuran, telur ayam, hingga bumbu dapur dengan harga yang terjangkau dan tentunya lebih murah dari harga pasaran.

Pasar murah digelar Distanpangan Bali di depan Kantor Desa Sumerta Kauh, Denpasar (18/9).

 

DENPASAR – fajarbali.com | Dalam upaya menekan laju inflasi, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) bekerja sama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menggelar pasar murah yang bertempat di depan Kantor Desa Sumerta Kauh, Denpasar, Minggu (18/9/2022).

Produk yang dijual adalah barang-barang kebutuhan pokok, seperti beras, minyak goreng, buah, sayuran, telur ayam, hingga bumbu dapur dengan harga yang terjangkau dan tentunya lebih murah dari harga pasaran.

Pasar murah yang bertempat di Depan Kantor Desa Sumerta Kauh.

Komoditi bahan pokok seperti bawang merah dan sayuran didatangkan dari Kabupaten Bangli, cabai didatangkan dari Buleleng dan Kelungkung, sedangkan pasokan beras bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog).

Kepala Distanpangan I Wayan Sunada menyampaikan, ini merupakan kali pertama gelaran pasar murah, dan dalam waktu dekat juga akan dilaksanakan di Buleleng. Ia mengaku agenda untuk pasar murah ini akan dilaksanakan juga secara bertahap di sembilan kabupaten/kota Se-Bali.

“Kami sudah siapkan anggaran untuk itu, dengan tidak bermaksud untuk melakukan persaingan terhadap pedagang lokal di pasar utama, karena pelaksanaan ini hanya sementara waktu” ujarnya.

Terkait ketersediaan pasokan komoditi pihaknya berharap agar para petani untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah terlebih dahulu. “Kita harapkan bagi petani-petani untuk tidak membawa hasil panenya ke luar Bali, kita penuhi dulu kebutuhan dalam daerah kita” tandasnya.

Turut hadir Pemerintah Provinsi Bali yang diwakili asisten II, Ni Luh Made Wiratni untuk meninjau gelaran pasar murah ini. Ia mengatakan kenaikan inflasi Bali cukup signifikan, karenanya dalam upaya berkontribusi menekan inflasi pihaknya mendukung penuh gelaran pasar murah.

Jajaran Pemerintah Provinsi Bali beserta tim TPID dan pihak Desa memantau gelaran pasar murah.

Selain itu, dampak inflasi juga berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Menurutnya dengan digelarnya pasar murah ini juga turut membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.

“Dengan kita menekan harga, masyarakat bisa terbantu dengan membeli kebutuhan pokoknya secara murah dan mendapatkan produk dengan kualitas bagus” ujarnya.

Kepala Desa Sumerta Kauh, I Wayan Sentana sangat mengapresiasi program ini. Ia juga menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Bali, karena memilih Desa nya yang menjadi pelopor pelaksanaan pasar murah ini.

Ia berharap program ini kedepan bisa berbasis banjar, menurutnya dengan kondisi perkotaan, antara banjar satu dengan lainnya saling berdekatan, dengan demikian dirasa sangat penting dilakukan berbasis banjar.

“Kami rasa banjar satu dengan lain di wilayah kami berdekatan, mungkin saran untuk selanjutnya, memang di kota agak sulit, tetapi kita perlukan gelaran pasar murah di kota itu berbasis dusun atau banjar” sarannya.

“Ini keberadaan masyarakat kami sangat antusias sekali, dan juga masyarakat umum juga sangat memanfaatkan pasar murah ini, sehingga mereka merasa terbantu” imbuh Wayan Sentana.

Atas nama Pemerintah Desa, pihaknya terus menjalin komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Bali, dan pihak terkait pada bidang perekonomian, maupun pertanian, agar masyarakatnya bisa terbantu dengan program-program lainnya yang diprioritaskan kepada masyarakat kurang mampu.

Pada kesempatan yang sama, anggota TPID I Ketut Adiarsa menambahkan, ini juga merupakan salah satu peran pengendalian inflasi menggunkan strategi dengan 4K, pertama yaitu ketersediaan pasokan, kedua kelancaran distribusi.

“Pasar murah ini merupakan kelancaran distribusi, sebab di Bangli ketersediaan pasokan komoditi itu surplus, sehingga kita bawa kesini” kata Adiarsa yang juga selaku Kepala Biro Pengadaan dan Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Bali.

Selanjutnya, kata Adiarsa ada keterjangkauan harga, yang merupakan pembanding, sehingga pedagang yang lain bisa menekan harga, dan mengurangi keuntungannya sehingga harga bisa stabil.

Terakhir komunikasi yang efektif, menurut Adiarsa peran media bisa membantu edukasi masyarakat, bahwa dalam situasi saat ini tidak perlu panik dengan kebutuhan pangan di Bali, semua masih terkendali sehingga untuk kebutuhan pangan bisa dengan harga stabil. (rl/Gde)

Next Post

NIU Mobility Resmikan Flagship Store Pertama di Bali dari Daur Ulang Plastik

Ming Sep 18 , 2022
NIU Mobility sebagai penyedia solusi mobilitas perkotaan cerdas terkemuka di dunia membuka flagship store pertamanya di Sanur, Bali.
Niu-d90e852c