DENPASAR-fajarbali.com | Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menjalin kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper).
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan MoU antara Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd, dengan Menteri Lingkungan Hidup/BPLH, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut, M.P, dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya (Pimpinan Pusat Wanita Islam, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Forum Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Wati Nasional), Rabu (9/7/2025), di Auditorium Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta.
Melalui kolaborasi ini, Tempat Penitipan Anak berbasis layanan Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) yang diinisiasi Kemendukbangga/BKKBN akan menjadi salah satu penilaian dalam Proper yang dikembangkan Kementerian LH/BPLH.Â
Tamasya merupakan satu dari lima program quick wins Kemendukbangga/BKKBN. Empat program lainnya adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Sidaya (Lansia Berdaya), dan AI - SuperApps tentang Keluarga.
Kerja sama itu di antaranya dilatarbelakangi data yang menunjukkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan saat ini hanya 56,42 persen lebih rendah dibandingkan TPAK laki-laki sebesar 84,66 persen.
Harapannya, TPAK perempuan menjadi 70%. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi dengan kementerian terkait.
Berangkat dari kondisi itu, pemerintah kemudian menerbitkan Surat Edaran Bersama (SEB) Enam Menteri tentang Pembentukan dan Penyelenggaraan Tempat Penitipan Anak di Lingkungan Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara/Daerah, Swasta dan Masyarakat.
Keenam kementerian tersebut adalah Mendukbangga/Kepala BKKBN, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Menteri Sosial, dan Menteri Ketenagakerjaan.Â
"Saat ini saya melakukan MoU dengan Menteri LH/Kepala BPLH yang berkaitan dengan program Proper di mana ada korporasi yang bergerak di bidang kelapa sawit yang pekerjanya lebih banyak wanita. Bagaimana dengan anak mereka. Maka, program Tamasya sangat ideal untuk diterapkan," ungkap Menteri Wihaji, dalam keterangan pers yang diterima fajarbali di Denpasar.
Menteri Wihaji menegaskan, "TPAK perempuan harus naik. Karena perempuan juga mempunyai hak bekerja, tapi anak tetap menjadi prioritas. Untuk itu, Tamasya hadir untuk menjawab tantangan itu."
Berdasarkan data angkatan kerja perempuan yang masih rendah, program Tamasya terus digerakan Kemendukbangga/BKKBN dan pihak terkait, karena program tersebut mempunyai empat keunggulan layanan yang menarik.Â
Keempat layanan itu adalah pendampingan pengasuh bersertifikasi, pendampingan anak, pendampingan orang tua/keluarga, dan layanan rujukan. Sehingga orang tua pekerja tidak merasa khawatir saat bekerja karena anak mereka dititipkan di TPA yang memiliki layanan Tamasya.Â
Tamasya bertujuan untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan pengasuhan yang positif dan stimulatif, sementara orang tua tetap dapat bekerja secara produktif tanpa mengabaikan hak dan kebutuhan tumbuh kembang anak.
Sementara itu, Menteri LH/Kepala BPLH menyatakan sangat mendukung program Kemendukbangga/BKKBN yang akan disinergikan ke dalam Proper, sebuah penilaian tentang ketaatan - tata lingkungan pada semua unit usaha. Tahun ini ada 6000 ribu perusahaan besar terlibat dalam Proper.
Untuk mencapai Proper dengan predikat Emas atau Hijau, perusahaan wajib memiliki TPA berbasis Tamasya sebagai salah satu syarat.
"Kami mendukung penuh program Kemendukbangga, untuk menjaga anak-anak yang ditinggal bekerja oleh orangtua dan tetap dalam status kasih sayang yang diberikan di Tamasya," pungkas Hanif.
Sementara itu, Ketua Umum ICMI, Prof. Dr. Arif Satria, SP, M.Si, mengatakan bahwa organisasinya memiliki program ketahanan keluarga dan perlindungan anak yang juga diampu Kemendukbangga/BKKBN.Â
"Kami sebagai organisasi masyarakat mendukung program Kemendukbaggaa/BKKBN sebagai program yang sangat relevan dan sangat penting dalam memasuki era digital, di mana ketahanan keluarga untuk memperkuat ketahanan bangsa," jelalsnya.
Acara tersebut ditandai pula dengan penyerahan bantuan secara simbolis oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) untuk Tamasya yang berada di wilayah Tertinggal, Terluar, Terdepan atau 3T. (rel)Â
Â
Â
Â