Hari Raya Neypi, Bupati Mas Sumatri dan Wabup Artha Dipa Ajak Mulat Sarira

AMLAPURA-fajarbali.com | Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri beserta Wakil Bupati I Wayan Artha Dipa mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941, yang jatuh pada hari Kamis 7 Maret 2019 mendatang bagi seluruh umat Hindu.

IGA Mas Sumatri menyampaikan imbauan khusus pada perayaan Nyepi kali ini karena perayaan Nyepi berdekatan dengan hajatan pesta demokrasi Pemilu, 17 April 2019.

IGA Mas Sumatri yang didampingi wakil bupati I Wayan Artha Dipa menyebutkan, dalam perayaan Hari Raya Nyepi yang berdekatan dengan tahun Politik, kondusifitas dan kedamaian adalah harga mati, yang tak bisa digoyahkan oleh perbedaan pilihan politik. Apalagi pemerintah Karangasem sedang berkonsentrasi mewujudkan Karangasem Cerdas, Bersih dan Bermartabat berlandaskan Tri Hita Karana. “Tahun politik jangan memengaruhi kedamaian masyarakat. Jalankan Catur Bratha Penyepian dengan introspeksi diri atau mulatsarisa, agar tercipta keseimbangan Bhuana Alit dengan Bhuana Agung,” kata IGA Bupati Mas Sumatri.

Perayaan Hari Raya Nyepi, kata Bupati, merupakan warisan leluhur bagi negeri ini yang mengandung nilai-nilai luhur. Hal ini tercermin dari Catur Brata penyepian yang senantiasa menjadi pedoman dan penuntun bagi umat Hindu dalam melaksanakan prosesi Nyepi. “Catur Bratha Penyepian, seperti yang kita ketahui bagiannya, yakni tidak menyalakan api, tidak beraktivitas, tidak ke luar rumah, dan tidak bersenang-senang atau berfoya-foya. Marilah setahun sekali kita implementasikan ajaran yang adi luhung ini dengan khidmat,” ujarnya.

Bupati juga mengajak, umat Hindu membangun kebanggaan diri karena diberi kesempatan turut menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur yang telah ada di negeri ini sejak dahulu. Hari Raya Nyepi dan hari-hari raya umat Hindu lainnya merupakan tonggak-tonggak peringatan penyadaran dharma. Oleh karena itu kegiatan dalam menyambut datangnya hari-hari raya itu semestinya tidak pada segi hura-hura dan kemeriahannya, tetapi lebih banyak pada segi tattwa atau falsafahnya. “Kami himbau instansi pemerintah dan swasta yang mengemban tugas pelayanan pada Hari Raya Nyepi agar menyiapkan petugasnya sehari sebelum Hari Raya Nyepi dilaksanakan. Serta bersama-sama menertibkan peredaran dan penggunaan minuman keras (Miras) di wilayah kerjanya masing-masing,” ujarnya lagi.

Hal serupa juga disampaikan Wabup I Wayan Artha Dipa menyebut, Nyepi merupakan Hari Raya Umat Hindu untuk memperingati perayaan Tahun Baru Saka. Bagi masyarakat Bali, lanjutnya, Nyepi identik dengan hari di mana umat Hindu tidak keluar rumah seharian. Sehari setelah Ngerupuk dengan ogoh-ogoh buta kalanya, dimana malam harinya sepi dan gelap gulita karena tidak boleh menyalakan lampu, hari yang memberi kesempatan untuk  mulatsarira (introspeksi/kembali ke jati diri) dengan merenung atau meditasi, pelaksanaan Catur Brata Penyepian. “Perayaan Nyepi dengan Catur Brata Penyepiannya membuat Bali sebagai satu-satunya pulau di dunia yang mampu mengistirahatkan seisi pulau secara total sehari penuh dari berbagai aktivitas. Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk mengadakan koreksi total pada diri sendiri, serta menilai pelaksanaan Tri Kaya Parisudha,” ujar Artha Dipa. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Gara-Gara Got Mampet, Jalan Hotmix Penglipuran-Buungan Cepat Rusak

Ming Mar 3 , 2019
BANGLI-fajarbali.com | Kondisi ruas jalan hotmix penghubung antara desa Penglipuran, Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, dengan Banjar Buungan, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Bangli, mulai kian memperihatinkan.
BPD BALI