Penjualan Lesu Akibat Pandemi, Pengrajin Songket Promosi Via Online

(Last Updated On: )

Denpasar-fajarbali.com | Kendati angka penjualan kain tenun songket menurun di tengah pandemi, namun semangat para pengrajin songket di Bali tetap membara. Apalagi saat ini produk khas Sidemen Karangasem itu telah dikenal banyak kalangan, baik nasional maupun internasional hingga dipromosikan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) dan pameran Bali Bangkit.


Pengrajin sekaligus owner Tenun Trisna Sidemen Karangasem, I Gusti Ngurah Suarba saat dikonfirmasi, Selasa (6/7/2021) mengatakan, pandemi Covid-19 mengakibatkan penjualan songket merosot, rata-rata perbulan hanya dapat menjual lima lembar kain songket jenis katun dengan kisaran harga 1,3 juta rupiah per lembar.

“Padahal, sebelum pandemi angka penjualan songket perhari sangat tinggi terutama pesanan salon dan rias pengantin dengan harga dibandrol 5 juta rupiah per lembar kain songket jenis sutra,” ujarnya.

Baca Juga :
ITDC Magangkan 12 Pemuda Terpilih Desa Penyangga The Mandalika
Kasus Covid-19 Meningkat, Ketersediaan Oksigen dan Obat-obatan di RSUP Sanglah Mencukupi

Gusti Ngurah Suarba mengaku, untuk proses penenunan kain songket jenis sutra diperlukan waktu 2 hingga 3 bulan, sementara songket jenis katun hanya 1 bulan penenunan. Ia mengungkapkan, permintaan songket saat ini didominasi jenis katun yang harganya terjangkau dengan kualitas tetap terjamin.

“Kondisi saat ini juga mengajarkan para pengrajin memanfaatkan sarana digital melalui kanal media sosial, sehingga produk songket dan tenun endek semakin dikenal pasar dan terserap lebih cepat,” terangnya.

Ia menuturkan, pandemi seperti sekarang ini penjualan kain tenun songket merosot tajam. Gusti Ngurah Suarba mengaku, dalam sehari dirinya kadang dapat jualan kadang tidak sama sekali. “Kalaupun ada yang membeli mereka lebih memilih songket katun yang harganya lebih murah namun harga tetap terjamin, promosi saat ini cenderung dilakukan online,” ungkapnya.

Gusti Ngurah Suarba mengungkapkan, angka penjualan produk kerajinan di tengah pandemi memang jauh berbeda, jika sebelum pandemi omzet yang diperoleh bisa mencapai puluhan juta rupiah sebulan, namun saat ini dalam sebulan pun belum tentu laku. Ia berharap, ekonomi Bali kembali menggeliat dengan sejumlah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. (dha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Gerakan Pemasangan Biopori di Perkantoran Masih Minim

Rab Jul 7 , 2021
(Last Updated On: )GIANYAR-fajarbali.com |  Pegiat lingkungan Biopori Bersahaja yang juga pegiat di komunitas Pego Lulu, Banjar Tengah Desa Peliatan, Ubud, menyebutkan selama kampanye pemasangan bioporo, respon dari perkantoran baik negeri dan swasta masih rendah. Dimana saat ini, pemasangan biopori sedang intens dilaksanakan di Kabupaten Badung, Kodya Denpasar dan Gianyar.

Berita Lainnya