Maksimalkan WFB, UMKM Bisa Jadi Pendukung Pemulihan Ekonomi

DENPASAR-fajarbali.com | Kondisi pariwisata yang memburuk akibat pandemi Covid-19 membuat semua aspek penopangnya harus mencari alternatif untuk bertahan hidup. Mulai dari jasa angkutan, hotel, pramuniaga, sales dan lain-lainnya. Salah seorang pelaku pariwisata I Gede Putu Verdy Riana Saputra pun mengalami kondisi yang sama pada usahanya, namun tidak membuatnya menyerah.

Verdy Saputra mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi Bali secara umum. Kendati demikian, ia berusaha mematangkan potensi usaha sekitarnya yang bergerak dalam usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta berusaha agar tetap bersinergi antar pelaku UMKM ini.

“Harapan dibukanya pariwisata atau border internasional pada Juli ini sangat dinantikan oleh semua kalangan. Program dari pemerintah Work From Bali (WFB) bisa menjadi momen dimana seluruh lapisan masyarakat di Bali merasakan manfaatnya,” ungkapnya.

Untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat adanya program WFB, adalah dengan berpikir kreatif. Selain itu, untuk memaksimalkan WFB adalah dengan membuat event, atau kreativitas lainnya yang menunjang kinerja program pemerintah tersebut.

Baca juga :
Akhir Juni Target 70 Persen Warga Tervaksin
Jadi Penggerak Ekonomi Lokal, Suradnyana, Pemuda Buleleng Harus Terdepan

“Hanya saran saya terhadap pelaku WFB, janganlah menggunakan mobil pribadi agar tercipta mutualisme yang baik dari program WFB tadi. Saya berharap bila ini dilakukan akan berdampak langsung bagi masyarakat Bali baik bidang jasa, atraksi bahkan angkutan,” imbuhnya.

WFB tentu punya nilai positif bagi Bali. Tetapi bila WFB hanya terkonsentrasi di satu kawasan maka terkesan tidak adil bagi kawasan lain yang notabene sudah siap menerima tamu.

“Saya pikir WFB ini harus benar-benar dimatangkan, saya mendengar Nusa Dua adalah pilot projectnya,” lanjut Verdy.

Ia menambahkan jika program WFB berlanjut ke depan, maka daerah yang dituju harus memiliki kriteria zona hijau serta sertifikasi CHSE (Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan). Daerah yang belum mendapatkan jatah agar terus didorong untuk memiliki standar tersebut.

Disinggung soal UMKM, ia menuturkan bahwa saat inilah Bali harus bangkit dari keterpurukan, berkolaborasi dengan wadah atau asosiasi yang dapat mengumpulkan bahkan sudah memiliki UMKM binaan, dan memanfaatkan program WFB ini sebagai ajang untuk menyatukan data base.

“Misal kita mengadakan pameran stan di Nusa Dua, dan ASN yang bekerja di sana kita bawakan produk-produk hasil UMKM, ini loh UMKMnya Bali. Jadi tidak usah ke mana-mana lagi untuk men-spend (membelanjakan) uangnya untuk masyarakat Bali,” tegasnya.

Ia menilai WFB juga menjadi momen bagi pelaku UMKM untuk memahami digitalisasi pembayaran.

“Jika kita membuat pameran UMKM untuk menyambut WFB itu, saya kira perbankan lokal dapat mengedukasi pelaku UMKM tentang transaksi digital atau payment gateway. Saya kira sinergi seperti inilah yang kita butuhkan, kita maksimalkan WFB ini dalam menggerakkan ekonomi Bali,” pungkasnya. (dha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Jangan Ragu Kunjungi Showroom Honda, Astra Motor Bali Konsisten Terapkan ProKes Sebagai Jaminan Keamanan

Ming Jun 13 , 2021
DENPASAR–fajarbali.com | Turut mensukseskan peraturan pemerintah khususnya wilayah Bali yang ditetapkan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster pada 4 Maret 2021, yang tertuang dalam Pergub Bali Nomor 10 Tahun 2021, mengatur tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Dalam […]
BPD BALI