TABANAN-fajarbali.com | Nuanu Creative City resmi mengumumkan penyelenggaraan edisi kedua FOTO Bali Festival, sebuah ajang fotografi internasional bergengsi yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Juni hingga 12 Juli 2026. Kehadiran festival ini menandai kelanjutan dari kesuksesan edisi perdana tahun lalu yang berhasil memposisikan Bali bukan sekadar destinasi wisata, melainkan pusat pertemuan kreatif bagi para praktisi fotografi dan seniman visual global untuk saling bertukar gagasan melampaui sekat-sekat geografis.
Sejak diluncurkan pada tahun 2025, festival ini lahir sebagai respons atas kebutuhan ruang fotografi internasional yang berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara. Pada edisi perdananya, antusiasme peserta sangat luar biasa dengan keterlibatan 34 seniman dari 10 negara yang disaring ketat dari ratusan pengajuan karya global. Catatan impresif ini membuktikan bahwa Bali memiliki daya tarik kuat sebagai ruang dialog bagi praktik fotografi kontemporer yang relevan dengan perkembangan zaman.
Kelsang Dolma, selaku Festival Director, menekankan bahwa dukungan penuh dari Nuanu merupakan bentuk komitmen jangka panjang terhadap pembangunan infrastruktur budaya. Menurutnya, festival ini dikembangkan secara organik dan hati-hati agar tetap peka terhadap konteks lokal sembari membuka diri terhadap kolaborasi internasional. “FOTO Bali Festival bukan sekadar inisiatif sekali jalan, melainkan upaya kolektif untuk membentuk Nuanu sebagai ruang budaya bersama yang inklusif,” ujarnya.
Menariknya, edisi 2026 ini akan menghadirkan perspektif baru dengan penunjukan dua kurator berbakat asal Indonesia, Kurniadi Widodo dan Putu Sridiniari. Kurniadi, yang berbasis di Yogyakarta, membawa pengalaman panjang dalam ranah dokumenter dan pendidikan fotografi. Sementara itu, Putu Sridiniari akan memberikan sentuhan riset mendalam mengenai arsip, memori, dan konteks sosial-politik. Kolaborasi keduanya diharapkan mampu memberikan kedalaman narasi pada karya-karya yang akan dipamerkan nanti.
Bagi Kurniadi Widodo, festival ini merupakan peluang emas untuk meruntuhkan batasan institusional yang selama ini membatasi ruang gerak fotografer. Ia berfokus pada pembangunan kerangka kuratorial yang memungkinkan berbagai gaya dan praktik fotografi saling berdialog tanpa kehilangan identitas asalnya. Di sisi lain, Putu Sridiniari ingin mengeksplorasi bagaimana sebuah gambar mampu merekam jejak waktu dan realitas sosial yang membentuk sejarah masyarakat setempat.
FOTO Bali Festival 2026 tidak hanya berhenti pada tampilan visual di dinding galeri. Festival ini dirancang sebagai platform edukatif yang komprehensif, mencakup rangkaian diskusi publik dan pertemuan intensif antara praktisi dan masyarakat luas. Melalui pendekatan ini, fotografi ditempatkan sebagai praktik yang hidup dan berkelanjutan, yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari serta kondisi sosial di mana gambar tersebut diproduksi.
Dengan skala internasional yang diusungnya, edisi kedua ini mempertegas dedikasi Nuanu dalam memperkuat ekosistem seni di Indonesia. Festival ini diharapkan dapat terus menghidupkan percakapan seni di Asia Tenggara dan memantapkan posisi Bali sebagai simpul aktif dalam jejaring kreatif dunia. Melalui kurasi yang matang dan program yang beragam, FOTO Bali Festival 2026 siap menjadi tonggak penting bagi perkembangan seni visual di tanah air. (M-001)









