Korban Tenggelamnya Kapal Tunu Pratama Jaya Disambut Isak Tangis Keluarga

WhatsApp Image 2025-07-10 at 13.08.07_ce7f52c3
Situasi dirumah duka setelah kepulangan jenazah korban tenggelamnya kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya, Putu Mertayasa

BULELENG-fajarbali.com | Peristiwa tenggelamnya kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya yang tenggelam pada 2 Juli 2025 dinihari di Selat Bali yang juga menewaskan Putu Mertayasa (43) asal Desa Anturan, Kecamatan Buleleng ditemukan dalam kundisi memprihatinkan.

Jenazah Mertayasa ditemukan dipesisir laut Jembrana dalam keadaan membusuk, pada Rabu (9/10/2025) sekitar pukul 22.00 wita. Satu dari dua jenazah korban KMP Tunu Pratama Jaya yang baru ditemukan di pesisir Jembrana, Bali, berhasil diidentifikasi. Dimana Identifikasi dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur.

Jenazah itu dipastikan bernama Putu Mertayasa (43) dan beralamat di Banjar Pasar, Desa Anturan, Buleleng. Menurut informasi dimana Putu Mertayasa merupakan korban ke-12 yang berhasil ditemukan pada Rabu pagi.

Jenazah Putu Mertayasa telah diberangkatkan dari RSUD Blambangan dan akan diserahkan kepada keluarga di Pelabuhan Gilimanuk. Sementara itu, satu jenazah lain yang merupakan korban ke-11 masih dalam proses identifikasi.”Baru satu teridentifikasi dari dua jenazah yang ditemukan di Jembrana pagi tadi. Warga Buleleng dan jenazah sudah berangkat dari RSUD Blambangan,”ungkap Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Denpasar, Kolonel Laut (P) Cokorda Gede Parta Pemayun, saat dikonfirmasi Rabu malam.”Saat ini sudah menyebrang. Akan diserahkan kepada keluarga dan diantar ke rumah duka,”imbuhnya.

Sesampai jenazah korban dirumah duka sekira pukul 23.45 wita disambut isak tangis keluarganya. Istri korban Kadek Suartini (38) tidak bisa membendung rasa sedihnya setelah mendapati tubuh suaminya yang terbujur kaku. Menurut Suartini, Almarhum Mertayasa merupakan tulang punggung keluarga. Bekerja sebagai sopir truk, berjuang keras untuk menghidupi istri dan keempat anaknya. Tiga anaknya sudah remaja dan satu masih balita.”Dari perkawinan kami dianugrahi empat orang anak, tiga anak kami sudah remaja dan satu masih balita,”tutur Suartini dengan mata berkaca-kaca.

BACA JUGA:  Wujudkan Program Pemerintah PKK Diharapkan Menjadi Penggerak Masyarakat

Sudiartini mengatakan suaminya telah bekerja sebagai sopir selama 20 tahun. Mulai dari sopir angkot sampai terakhir menjadi sopir truk.”Sejak kami berpacaran suami saya sudah sopir hingga dia meninggal. Pertamanya sopir izuzu, kemudian sopir bus, baru truk,”tambahnya lagi.

Saat kejadian, kata dia suaminya tengah dalam perjalanan dari Surabaya Jawa Timur menuju Denpasar, Bali. Truk yang dikemudikan oleh Mertayasa mengangkut besi. Ia mengatakan sang suami memang sering bolak-balik Jawa-Bali bekerja sebagai sopir truk.”Suami saya bekerja sebagai sopir truk. Sering bawa muatan besi ke Jawa. Kemarin dari Surabaya mau ke Denpasar,”tuturnya lagi.

Ia terakhir kali berkomunikasi dengan suaminya pada Rabu (2/7/2025) malam. Mertayasa saat itu menghubungi istrinya lewat video call whatsapp (WA). Saat itu korban mau melihat anak-anaknya. Almarhum mau melihat keadaan anak-anaknya. Terutama putra bungsu mereka yang masih berumur 17 bulan.”Sebelum peristiwa korban sempat menghubungi saya dan ingin melihat anak keempatnya. Saat itu saya perlihatkan anak saya dalam keadaan tidur karena saat itu suami saya telepon saya sekitar pukul 21.00 wita,”lanjutnya.

Keesokan harinya, Sudiartini mendapat kabar tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya. Kabar itu didapat dari adik iparnya. Ia pun berusaha menelpon suaminya tapi tidak mendapat respon.”Saya coba hubungi telepon biasa. Saya tanya ke teman kerjanya bahwa dipastikan bahwa suami saya ikut kapal itu,”katanya.

Mendengar kabar tersebut, ia langsung bergegas ke Pelabuhan Gilimanuk untuk mencari informasi mengenai keberadaan suaminya. Setelah sepekan menanti ia akhirnya mendapat kabar tentang suaminya. Namun suaminya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah kemudian dibawa dari RSUD Blambangan menuju rumah duka di Jalan Pulau Serangan, Kelurahan Penarukan.”Setelah saya mendengarkan kabar itu saya langsung ke Pelabuhan dan menunggu kepastian keadaan suami saya dan akhirnya saya mendapatkan informasi baru kemarin bahwa suami saya sudah dalam keadaan meninggal dunia,”ucapnya.

BACA JUGA:  Satgas Covid 19 di Desa Bakal Dihadiahi Beras BLT Diharapkan Cair Pertengahan Bulan Mei

Dikonfirmasi kapan akan di upacarai? Pihaknya mengaku belum mencarikan hari baik untuk upacara suaminya.”Belum mendapatkan hari baik untuk upacara suami saya,”tutupnya. @gus

Scroll to Top