DENPASAR-fajarbali.com | Kolaborasi penelitian baru antara Indonesia dan Australia menempatkan strategi keberlanjutan yang praktis dan berbasis lokal ke dalam sorotan pariwisata global, menawarkan pelajaran tepat waktu bagi museum, objek wisata budaya, dan para pemimpin destinasi.
Universitas Ngurah Rai (UNR) Indonesia dan Torrens University Australia terus memajukan kolaborasi penelitian internasional mereka melalui publikasi artikel ilmiah di Journal of Sustainable Tourism, jurnal terkemuka peringkat Q1 yang diindeks oleh Scopus.
Publikasi ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas dari kedua institusi untuk berkontribusi pada diskusi ilmiah global tentang keberlanjutan, warisan budaya, dan pariwisata.
Hal ini mencerminkan komitmen bersama terhadap penelitian yang menjembatani pengetahuan berbasis lokal dengan kerangka kerja teoretis dan metodologis yang diakui secara internasional.
Studi yang dipimpin oleh Tjokorda Gde Agung Wijaya Kesuma Suryawan, BComm., MIntBus., CMA, menunjukkan peran yang semakin meningkat dari akademisi Indonesia dalam memimpin penelitian yang terlibat secara internasional.
Artikel berjudul "Pendekatan praktis dalam memahami strategi keberlanjutan museum swasta berskala kecil: etnografi aksidental melalui perspektif realisme kritis" ini ditulis bersama Profesor Catheryn Khoo dari Torrens University Australia.
Penelitian ini mengkaji bagaimana Museum Seni Agung Rai (ARMA) di Ubud, Bali, telah mengembangkan strategi keberlanjutan adaptif di tengah tantangan yang dihadapi oleh museum dan lembaga budaya di seluruh dunia, termasuk penurunan keterlibatan pengunjung dan tekanan keuangan.
Merefleksikan substansi studi tersebut, Tjokorda menekankan nilai penempatan praktik yang berakar pada budaya dalam wacana akademis global.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa lembaga budaya di Bali menawarkan wawasan yang kaya secara konseptual dan praktis tentang keberlanjutan ketika warisan, keterlibatan masyarakat, dan kelayakan ekonomi dipahami sebagai saling terkait,” katanya di Kampus UNR, Senin (26/1/2026).
Kolaborasi ini dimulai pada awal tahun 2024 melalui lokakarya akademis bersama yang diikuti dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara kedua lembaga tersebut.
Pertukaran akademis selanjutnya tentang studi warisan budaya dan museum membawa tim peneliti ke ARMA, di mana keterlibatan erat dengan kepemimpinan museum memberikan landasan empiris bagi penelitian ini.
Temuan ini menempatkan ARMA sebagai "Museum Hidup" yang mengintegrasikan praktik budaya, termasuk tari, lukisan, dan MICE (Pertemuan, Insentif, Konferensi, dan Pameran), ke dalam model keberlanjutannya.
Pendekatan yang tertanam secara lokal ini menggambarkan bagaimana museum kecil dan swasta dapat tetap tangguh sambil mempertahankan otentisitas budaya dalam berbagai konteks internasional.
Profesor Catheryn Khoo menyoroti pentingnya kolaborasi internasional yang adil dalam membentuk penelitian yang relevan secara global.
“Bekerja sama dengan mitra internasional memungkinkan para sarjana Indonesia untuk berkontribusi secara setara, memastikan bahwa penelitian tentang Bali dibentuk oleh mereka yang memahami konteks budaya dan sosialnya,” katanya.
Publikasi ini didukung oleh kerangka kerja penelitian institusional dari Universitas Ngurah Rai dan Universitas Torrens Australia, termasuk proses persetujuan etika dan fasilitasi mobilitas akademis.
Melalui kolaborasi berkelanjutan, Universitas Ngurah Rai, Bali dan Torrens University Australia bertujuan untuk memosisikan pengetahuan yang berakar pada konteks lokal sebagai kontributor yang bermakna bagi kajian global tentang pariwisata berkelanjutan dan warisan budaya.









