Kawiya Persembahkan Teater Jaratkaru, Putri Koster Beri Skor Nyaris Sempurna

IMG-20260224-WA0003
Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali, menyajikan Pementasan teater Bali modern “Jaratkaru: Lampan lan Utang sane Mekutang” yang menjadi bagian Bulan Bahasa Bali VIII di Ksirarnawa, Art Center, Senin (23/2/2026).

DENPASAR-fajarbali.com | Tidak melulu meliput dan melaporkan peristiwa, Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali, turut ambil bagian sebagai penyaji dalam even Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026.

Tampil di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali atau Art Center, Denpasar, Senin (23/2/2026), petang, Kawiya menyajikan Pementasan teater Bali modern “Jaratkaru: Lampan lan Utang sane Mekutang”.

Ratusan penonton terpantau hadir sejak pukul 17.00 Wita meski hujan gerimis disertai tiupan angin tak berhenti sejak sehari sebelumnya. Di antara deretan penonton, turut hadir Ny. Putri Suastini Koster.

Pertunjukan ini menghadirkan tafsir baru mitologi Bali melalui pendekatan teater modern yang sarat kritik sosial dan refleksi kehidupan masyarakat masa kini.

Putri Koster yang karib disapa Bunda Putri memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas para seniman muda Kawiya Bali. Menurutnya, garapan teater ini menunjukkan perpaduan idealisme, kemampuan teknis, serta pemahaman teori seni pertunjukan yang matang.

“Saya melihat konsepnya jelas, ada idealisme, kemampuan dan pengalaman yang dipadukan dengan baik. Kemampuan anak-anak luar biasa,” ujar Putri Koster.

Sebagai pegiat seni teater sejak era 1970-an, Putri Koster menilai kualitas olah tubuh dan olah vokal para aktor sudah sangat baik. Namun ia memberi catatan penting terkait harmonisasi antara dialog pemain dan iringan gamelan agar pesan pertunjukan dapat tersampaikan secara utuh kepada penonton.

“Nilainya 9,9. Yang 0,1 itu hanya harmonisasi musiknya. Yang perlu diperhatikan hanya keseimbangan antara vokal dan musik. Semangat gamelan tetap kuat, tetapi dialog harus tetap terdengar jelas,” jelasnya.

Selain aspek teknis, Putri Koster juga menekankan pentingnya etika dalam kebebasan berekspresi di atas panggung. Menurutnya, seni memiliki ruang luas untuk menyampaikan kritik sosial, namun tetap harus disampaikan secara santun dan berbudaya.

BACA JUGA:  Sebelum Disahkan, Ranperda Gianyar tentang Pelestarian Seni dan Budaya Diseminarkan di Universitas Ngurah Rai 

“Seni boleh mengkritik, boleh menyampaikan protes sosial, tetapi tetap beretika. Kritik bisa tajam tanpa harus menyakiti,” tegasnya.

Sementara itu, sutradara Agus Wiratama menjelaskan bahwa pementasan Jaratkaru menghadirkan reinterpretasi mitologi Bali dengan pendekatan realitas generasi urban masa kini. Tokoh Jaratkaru dimaknai sebagai metafora tentang “utang” manusia, bukan hanya kepada leluhur, tetapi juga terhadap tanggung jawab sosial dalam kehidupan modern.

Garapan ini mengangkat berbagai persoalan kontemporer Bali seperti tekanan ekonomi, kemacetan, perubahan sosial hingga dinamika kehidupan generasi muda yang terus berupaya bertahan di tengah perubahan zaman.

Uniknya, pementasan turut melibatkan wartawan yang muncul di sela pertunjukan membacakan berita berbahasa Bali, menghadirkan suasana teatrikal yang mengajak penonton masuk langsung ke dalam realitas sosial yang dipentaskan.

Ketua Kawiya Bali I Putu Suryadi mengatakan teater ini menjadi ruang refleksi sekaligus medium kritik sosial berbasis budaya. Menurutnya, mitologi tidak lagi ditempatkan sebagai cerita masa lalu, melainkan resonansi terhadap kondisi Bali hari ini.

Pementasan tersebut juga mendapat apresiasi luas dari kalangan seniman dan akademisi, di antaranya Prof I Wayan Dibia, Ketua Pramusti Bali I Gusti Ngurah Murthana (Rahman), serta penyanyi Trisna STE yang turut hadir menyaksikan pertunjukan secara langsung.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top